BERITA TERKINI

Menyambut Ramadhan dari Bawah Tenda Pengungsian

Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul
Menyambut Ramadhan dari Bawah Tenda Pengungsian

ACEH | PASESATU.COM— Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Di sejumlah titik pengungsian banjir di Aceh, bulan suci itu datang bukan bersama ketenangan, melainkan dengan antrean panjang bantuan, tenda plastik yang menipis, dan kekhawatiran yang belum menemukan ujungnya.

Di siang hari, tenda-tenda darurat berubah menjadi ruang panas yang menyengat. Terpal tipis tak mampu menahan terik matahari. Malam hari sebaliknya, dingin merayap perlahan, menyisakan suara angin dan genangan yang belum sepenuhnya surut. Di ruang sempit itulah ratusan keluarga menjalani hari-hari menjelang Ramadhan.

Anak-anak terlihat duduk berkelompok, sebagian bermain dengan sandal bekas dan botol kosong. Wajah mereka menyimpan kelelahan yang tidak seharusnya dimiliki seusia itu. “Mak, nanti kita buka pakai apa?” tanya seorang bocah kepada ibunya, pelan namun terdengar jelas. Sang ibu hanya tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangan.

Bagi warga, persoalan bukan sekadar tempat tinggal. Banjir telah merendam sawah dan kebun yang menjadi sumber utama penghidupan. Sejumlah petani mengaku gagal panen, sementara pedagang kehilangan barang dagangan dan modal usaha. Akibatnya, kemampuan memenuhi kebutuhan harian semakin terbatas.

“Kami sudah mengurangi makan sejak sekarang,” ujar seorang warga pengungsian. “Bukan karena puasa, tapi memang harus begitu.”

Pembangunan hunian sementara (huntara) yang diharapkan warga belum sepenuhnya terealisasi. Di beberapa lokasi, bangunan masih berupa tiang-tiang tanpa atap. Warga pun terpaksa bertahan di tenda darurat, meski hujan masih kerap turun dan ancaman banjir susulan belum sepenuhnya hilang.

Di tengah kondisi tersebut, persiapan Ramadhan nyaris tak terasa. Tidak ada kesibukan menyiapkan hidangan berbuka atau membersihkan rumah. Yang ada hanyalah panci kosong, bantuan yang harus dibagi rata, dan upaya bertahan dari hari ke hari. Seorang ibu mengaku harus membagi satu butir telur untuk tiga anggota keluarga.

Meski demikian, warga tetap berupaya menjalankan ibadah. Di bawah tenda, sebagian menggelar sajadah seadanya. Tanah yang masih lembap menjadi alas sujud. “Kami hanya ingin bisa beribadah dengan tenang,” kata seorang pengungsi. “Itu saja.”

Pemerintah daerah menyatakan terus menyalurkan bantuan dan melakukan pendataan kebutuhan warga terdampak. Warga berharap distribusi bantuan pangan, layanan kesehatan, serta percepatan penyediaan hunian sementara dapat segera dirasakan secara merata, terutama menjelang Ramadhan.

Bagi masyarakat Aceh, Ramadhan adalah bulan pengharapan. Namun di pengungsian, harapan itu diuji oleh kenyataan yang belum berubah. Di balik dinding plastik yang mudah koyak, warga menanti bukan hanya waktu berbuka, tetapi juga kepastian—tentang tempat tinggal, tentang pangan, dan tentang hari esok yang lebih layak.(*)