BERITA TERKINI

Harapan dari Tanah Merah: Suara Kecil Wilda Menanti Kehadiran Presiden

Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul

ACEH UTARA | PASESATU.COM -  Dua bulan telah berlalu sejak banjir merendam Dusun Tanah Merah, Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Namun hingga kini, sebagian warga masih merasakan dampak bencana tersebut. Sejumlah rumah belum sepenuhnya pulih, perlengkapan hidup rusak, dan aktivitas belajar anak-anak masih berlangsung dalam keterbatasan.

Kondisi tersebut terlihat saat tim PASESATU melakukan peliputan di lokasi pengungsian yang berada di SMA Negeri 2 Langkahan Selasa (10/02/2026). Di tengah situasi itu, suara anak-anak terdampak bencana turut menyampaikan harapan mereka.

Wilda Khairisma, siswi sekolah dasar di Kecamatan Langkahan, didampingi Shiva Dahlia Lawolu dan Isnaini, menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan dasar yang hingga kini belum terpenuhi.

“Kami menginginkan rumah untuk kami tempati dan peralatan sekolah, termasuk baju sekolah,” ujar Wilda.

Banjir yang terjadi sebelumnya berdampak pada kehidupan anak-anak di Dusun Tanah Merah. Aktivitas belajar yang semula dilakukan di rumah dan sekolah, kini harus dijalani dalam kondisi darurat. Situasi tersebut menuntut perhatian agar hak anak atas rasa aman dan pendidikan tetap terpenuhi.

Dalam kesempatan yang sama, Wilda juga menyampaikan harapannya agar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dapat meninjau langsung kondisi warga terdampak banjir di wilayah tersebut.

“Pak Presiden, datanglah ke tempat kami, di Dusun Tanah Merah, Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan,” ucapnya.

Sementara itu, sejumlah warga dewasa masih bertahan di tenda pengungsian. Asmita (40), salah seorang warga terdampak, mengaku hingga kini belum memperoleh kepastian terkait hunian sementara (huntara) maupun relokasi.

“Sudah dua bulan kami tinggal di tenda. Sampai sekarang belum ada informasi mau dipindahkan ke mana,” kata Asmita saat ditemui PASESATU di lokasi.

Menurut Asmita, sebagian warga telah menerima bantuan berupa rumah atau bantuan uang sebesar Rp600 ribu per bulan. Namun, ia mengaku belum menerima salah satu dari bantuan tersebut.

“Rumah belum dapat, uang juga belum dapat. Huntara juga belum ada,” ujarnya.

Ia menyebutkan, terdapat sekitar 169 kepala keluarga terdampak banjir di Dusun Tanah Merah. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 kepala keluarga telah menerima rumah, sementara sebagian lainnya memilih bantuan tunai. Namun, penyaluran bantuan tersebut belum sepenuhnya menjangkau seluruh warga.

Selain persoalan hunian, warga juga menghadapi keterbatasan akses air bersih. Untuk kebutuhan minum dan mandi, warga harus mengambil air dari dusun lain yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi pengungsian.

“Air minum tidak ada di sini. Kami ambil dari dusun tengah. Mandi juga di sana,” tutur Asmita.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari, warga masih terbantu oleh bantuan pemerintah dan solidaritas masyarakat. Meski demikian, Asmita berharap ada kepastian tempat tinggal yang lebih layak, terutama menjelang bulan Ramadan.

“Harapan kami, sebelum Ramadan sudah ada tempat tinggal,” katanya.

Kondisi anak-anak menjadi perhatian utama warga. Di lokasi pengungsian terdapat bayi, balita, serta anak usia sekolah yang masih menjalani aktivitas sehari-hari dengan fasilitas terbatas. Situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pemenuhan hak dasar warga, khususnya anak-anak, untuk tumbuh dan belajar dalam lingkungan yang aman.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah desa, kecamatan, maupun instansi terkait mengenai kepastian penyediaan hunian sementara serta penyaluran bantuan lanjutan bagi warga terdampak banjir di Dusun Tanah Merah. (*)