BERITA TERKINI

Sejarah Istilah "Londo Ireng": Dari Pasukan Kolonial hingga Menjadi Label Politik

Ilustrasi

PASESATU.COM
- Istilah "Londo Ireng" kembali menjadi perbincangan publik dalam beberapa waktu terakhir. Namun, di balik penggunaannya dalam wacana politik kontemporer, istilah tersebut memiliki akar sejarah yang panjang dan mengalami pergeseran makna dari masa kolonial hingga era Indonesia modern.

Secara etimologis, "Londo Ireng" berasal dari bahasa Jawa. Kata "londo" berarti Belanda, sedangkan "ireng" berarti hitam. Secara harfiah, istilah itu berarti "Belanda Hitam".

Sejarawan Belanda Ineke van Kessel dalam bukunya The Black Dutchmen: African Soldiers in the Netherlands East Indies menjelaskan bahwa sebutan tersebut mula-mula digunakan untuk menyebut prajurit kulit hitam asal Afrika Barat yang direkrut pemerintah kolonial Belanda sebagai anggota Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) pada abad ke-19. Dalam bahasa Belanda, mereka dikenal sebagai Zwarte Hollanders atau Black Dutchmen.

Menurut Van Kessel, perekrutan dilakukan dari wilayah Dutch Gold Coast kini Ghana setelah Belanda mengalami kekurangan personel militer akibat pemisahan Belgia pada 1830. Para serdadu itu kemudian ditempatkan di Hindia Belanda dan dilibatkan dalam berbagai operasi militer kolonial, termasuk Perang Aceh.

Seiring berjalannya waktu, makna "Londo Ireng" mengalami perubahan. Istilah yang semula merujuk pada identitas pasukan kolonial bergeser menjadi label politik yang ditujukan kepada individu atau kelompok yang dianggap berpihak kepada kepentingan penjajah.

Peneliti sejarah dari Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Aditia Muara Padiatra, menjelaskan bahwa perubahan makna tersebut terjadi terutama setelah masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

 "Sepemahaman saya, istilah 'Londo Ireng' ini memang sudah erat sebagai istilah politik selepas pertempuran yang dilakukan oleh para pejuang, utamanya pada medio perang kemerdekaan Indonesia," ujar Aditia Muara Padiatra kepada IDN Times.

Menurut Aditia, dalam perkembangan berikutnya istilah tersebut menjadi bentuk ejekan bagi orang Indonesia yang dinilai lebih berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda dibandingkan kepentingan bangsanya sendiri.

Pandangan serupa disampaikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Dalam pernyataan resminya pada 26 Juli 2026, AJI menyebut bahwa dalam konteks sejarah Indonesia, "Londo Ireng" merupakan istilah peyoratif yang digunakan untuk menyebut orang Indonesia yang dianggap bekerja bagi kepentingan kolonial atau berpihak kepada pemerintah Belanda sehingga dipandang mengkhianati bangsanya.

"Apalagi istilah tersebut memiliki konotasi yang dianggap berkhianat, membelot, atau lebih membela kepentingan asing dibandingkan bangsanya sendiri," demikian pernyataan resmi AJI.

Sementara itu, sejarawan Bonnie Triyana, melalui sejumlah tulisannya mengenai sejarah kolonial Indonesia, menjelaskan bahwa penggunaan istilah-istilah yang lahir pada masa penjajahan sering mengalami transformasi makna sesuai dengan dinamika politik dan sosial pada setiap zaman. Karena itu, pemaknaan suatu istilah sejarah tidak dapat dilepaskan dari konteks ruang dan waktu ketika istilah tersebut digunakan.

Dalam konteks kekinian, "Londo Ireng" tidak lagi dipahami sebagai sebutan bagi tentara Afrika dalam dinas kolonial Belanda. Istilah tersebut lebih sering digunakan sebagai metafora politik untuk menyematkan stigma kepada pihak yang dianggap lebih membela kepentingan asing atau berseberangan dengan kepentingan nasional. Pergeseran makna inilah yang membuat penggunaannya di ruang publik kerap memunculkan perdebatan dan tafsir yang berbeda.***

Referensi

1. Ineke van Kessel, The Black Dutchmen: African Soldiers in the Netherlands East Indies.
2. Wawancara Aditia Muara Padiatra dengan IDN Times mengenai sejarah istilah "Londo Ireng".
3. Pernyataan resmi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), 26 Juli 2026.
4. Tulisan-tulisan sejarah kolonial Indonesia oleh Bonnie Triyana.