BERITA TERKINI

Bantuan "Berlibur" di Gudang, Nurani Terkunci di Balik Gembok

Bantuan "Berlibur" di Gudang, Nurani Terkunci di Balik Gembok

PASESATU.COM
- Di negeri yang kerap berbicara tentang kepedulian, ada ironi yang sulit diabaikan. Bantuan bagi korban bencana justru lebih lama berdiam di gudang daripada sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Selama berbulan-bulan, logistik tersimpan di sebuah gudang kecamatan, sementara sebagian warga terdampak banjir masih bertahan di hunian sementara dengan segala keterbatasan.

Beras tidak pernah merasakan lapar. Selimut tidak pernah menggigil di malam hari. Minyak goreng tidak pernah memahami perut yang kosong. Namun, barang-barang itulah yang tersimpan aman di balik pintu gudang, sedangkan para korban bencana masih hidup dalam ketidakpastian.

Ironi tersebut seolah menggambarkan bahwa gudang telah berubah menjadi tempat "beristirahat" bagi bantuan kemanusiaan. Sejak banjir berlalu, bantuan tetap tersimpan tanpa kejelasan kapan akan disalurkan. Kardus-kardus itu tentu tidak bisa mengeluh, apalagi menangis. Yang menangis adalah para ibu di hunian sementara ketika anak-anak mereka bertanya, "Bukankah ada bantuan? Mengapa belum sampai kepada kita?"

Situasi menjadi semakin memprihatinkan ketika muncul kabar mengenai dugaan hilangnya sebagian logistik. Peristiwa itu seakan menjadi alarm yang terlambat berbunyi. Keberadaan bantuan baru menjadi perhatian ketika diduga ada yang hilang, bukan ketika masyarakat sangat membutuhkannya.

Sering kali, bencana datang dalam hitungan jam, tetapi respons dan empati berjalan jauh lebih lambat. Air banjir memang telah lama surut, namun pertanyaan tentang penyaluran bantuan masih menyisakan kegelisahan. Yang dikhawatirkan bukan hanya hilangnya barang, melainkan memudarnya rasa tanggung jawab terhadap amanah yang dipercayakan kepada penyelenggara pemerintahan.

Sungguh menjadi sebuah tragedi apabila gembok gudang lebih setia menjaga bantuan daripada manusia menjaga amanah. Lebih menyedihkan lagi jika tikar di hunian sementara menjadi saksi penderitaan warga, sementara berbagai alasan terus bermunculan di ruang-ruang rapat.

Jangan sampai sejarah mencatat bahwa bencana terbesar bukanlah banjir yang merendam rumah dan lahan pertanian, melainkan hilangnya kepekaan terhadap penderitaan sesama. Sebab banjir hanya merusak bangunan, tetapi sikap abai dapat melukai rasa keadilan dan menenggelamkan nilai-nilai kemanusiaan.

Dan apabila suatu hari bantuan itu akhirnya tiba di tangan para korban, semoga yang datang bukan hanya beras, minyak goreng, atau selimut. Semoga yang turut hadir adalah tanggung jawab, kepekaan, dan hati nurani yang selama ini seolah ikut terkunci di balik pintu gudang.***

Penulis : Abdul Rafar