BERITA TERKINI

Jejak Kepemimpinan Dr Zaini Abdullah, Mengenang Jasa dan Pengabdiannya untuk Aceh

Jejak Kepemimpinan Dr Zaini Abdullah, Mengenang Jasa dan Pengabdiannya untuk Aceh
Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah (Foto: Mega Putra Ratya/detikcom)

BANDA ACEH | PASESATU.COM – Kepergian mantan Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah pada Sabtu (13/6/2026) meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh. Almarhum yang wafat pada usia 86 tahun dikenal sebagai salah satu tokoh perdamaian dan sosok yang berperan penting dalam perjalanan politik Aceh pascakonflik.

Dr Zaini Abdullah memimpin Aceh selama lima tahun, yakni pada periode 2012–2017. Bersama wakilnya, Muzakir Manaf, ia berhasil memenangkan Pemilihan Gubernur Aceh 2012 dengan dukungan kuat dari masyarakat.

Dikutip dari Wikipedia, semasa kampanye, Zaini Abdullah menaruh perhatian besar terhadap penguatan nilai-nilai Islam di Aceh serta pelaksanaan butir-butir Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Kesepakatan tersebut menjadi tonggak berakhirnya konflik berkepanjangan di Aceh.

Selama memimpin Aceh, Zaini Abdullah menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara aspirasi masyarakat Aceh terhadap pelaksanaan kekhususan daerah dengan kebijakan pemerintah pusat. Ia juga dihadapkan pada upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah yang sempat terhambat akibat konflik selama hampir tiga dekade.

Pada masa pemerintahannya, berbagai pembahasan terkait implementasi MoU Helsinki terus dilakukan, termasuk penguatan lembaga-lembaga yang diamanatkan dalam perjanjian damai tersebut. Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah juga mendorong pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh sebagai bagian dari upaya penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia pada masa konflik.

Selain itu, pemerintahan Zaini Abdullah turut memperjuangkan identitas dan kekhususan Aceh melalui pembahasan qanun mengenai lambang dan bendera Aceh. Isu tersebut sempat menjadi perhatian nasional dan melibatkan komunikasi intensif antara Pemerintah Aceh dengan pemerintah pusat.

Dikutip dari Wikipedia, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Zaini Abdullah selama menjabat adalah menjaga hubungan yang harmonis antara Aceh dan pemerintah pusat, sekaligus memenuhi harapan masyarakat Aceh terhadap pelaksanaan otonomi khusus.

Sebelum menjabat sebagai gubernur, almarhum merupakan salah satu tokoh penting dalam proses perdamaian Aceh. Bersama sejumlah tokoh lainnya, ia terlibat dalam perundingan yang berujung pada penandatanganan MoU Helsinki tahun 2005.

Kini, setelah berpulang pada usia 86 tahun, sosok Dr Zaini Abdullah akan dikenang sebagai tokoh yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk perjuangan, perdamaian, dan pembangunan Aceh. Pengabdiannya sebagai dokter, perunding perdamaian, hingga pemimpin daerah telah menjadi bagian penting dalam sejarah modern Aceh.***

Penulis : Syahrul Usman