H. M. Nur Abubakar, Sang Dermawan dari Pidie yang Mengabdikan Hidup untuk Kesehatan dan Kemanusiaan
MEDAN | PASESATU.COM - Pagi itu, Ahad, 7 Juni 2026, kabar duka datang dari Kota Binjai. Tepat pukul 09.40 WIB, H. M. Nur Abubakar mengembuskan napas terakhirnya pada usia 73 tahun. Kepergian pendiri dan pemilik Rumah Sakit Bidadari itu tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga, tetapi juga bagi ribuan masyarakat yang pernah merasakan sentuhan kepedulian dan pengabdiannya.
Di rumah duka yang beralamat di Jalan Sisingamangaraja, Kampung Aceh, Kota Binjai, suasana haru menyelimuti para pelayat yang datang silih berganti. Mereka hadir bukan sekadar untuk memberikan penghormatan terakhir kepada seorang pengusaha sukses, melainkan kepada sosok yang selama hidupnya dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan masyarakat dan tidak pernah menutup pintu bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.
Bagi banyak orang, nama H. M. Nur Abubakar identik dengan kepedulian. Ia dikenal sebagai figur yang percaya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Dari Tanah Pidie untuk Masyarakat
Lahir dan besar sebagai putra Aceh, tepatnya dari Kabupaten Pidie, H. M. Nur Abubakar tumbuh dengan nilai-nilai kehidupan yang menjunjung tinggi gotong royong, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian kepada sesama. Kecintaannya terhadap Aceh tidak pernah pudar meskipun perjalanan hidup membawanya ke berbagai tempat.
Semangat itu pula yang kemudian membentuk karakter dan langkah hidupnya. Di mata masyarakat, ia bukan hanya seorang tokoh usaha, tetapi juga seorang putra daerah yang selalu membawa nama Aceh dalam setiap kontribusi yang diberikannya.
Mereka yang mengenalnya sering menggambarkan almarhum sebagai pribadi sederhana, rendah hati, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Status dan kesuksesan yang diraihnya tidak pernah menciptakan jarak dengan masyarakat kecil.
Rumah Sakit Bidadari, Warisan yang Menjadi Harapan Banyak Orang
Di antara berbagai karya dan kontribusi yang ditinggalkannya, Rumah Sakit Bidadari menjadi salah satu jejak pengabdian paling nyata.
Rumah sakit tersebut lahir dari sebuah gagasan sederhana namun mulia: menghadirkan layanan kesehatan yang mudah diakses masyarakat. Bagi H. M. Nur Abubakar, kesehatan bukanlah kemewahan yang hanya dapat dinikmati sebagian orang, melainkan kebutuhan dasar yang harus tersedia bagi siapa pun.
Melalui Rumah Sakit Bidadari, banyak masyarakat memperoleh akses pelayanan medis yang lebih dekat dan terjangkau. Tidak sedikit pula warga yang mengenang berbagai bentuk bantuan yang diberikan almarhum, baik secara langsung maupun melalui lembaga yang dipimpinnya.
Di balik bangunan rumah sakit yang berdiri kokoh, tersimpan semangat kemanusiaan yang selama puluhan tahun menjadi prinsip hidupnya.
Kepedulian yang Melampaui Batas
Pengabdian H. M. Nur Abubakar tidak berhenti pada sektor kesehatan. Dalam berbagai kesempatan, ia dikenal aktif membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan ekonomi, musibah, maupun persoalan sosial lainnya.
Banyak kisah tentang kemurahan hati almarhum yang beredar dari mulut ke mulut. Sebagian tidak pernah dipublikasikan dan hanya diketahui oleh mereka yang pernah menerima bantuan secara langsung. Namun justru dari kisah-kisah itulah masyarakat mengenal sosoknya sebagai pribadi yang lebih memilih bekerja dalam diam daripada mencari pujian.
Baginya, membantu sesama bukanlah sebuah pencitraan, melainkan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Jejak yang Akan Tetap Hidup
Kepergian H. M. Nur Abubakar memang meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan. Namun nilai-nilai yang ditanamkannya selama hidup akan terus hidup dalam berbagai bentuk: pada layanan kesehatan yang masih melayani masyarakat, pada orang-orang yang pernah dibantunya, serta pada generasi muda yang menjadikan perjalanan hidupnya sebagai inspirasi.
Warisan terbesar yang ditinggalkan bukan hanya bangunan, lembaga, atau usaha yang dibangunnya. Lebih dari itu, warisan tersebut adalah teladan tentang arti kepedulian, keikhlasan, dan pengabdian kepada sesama.
Kini, sang putra terbaik Aceh telah berpulang. Namun jejak kebaikannya tetap tinggal, menjadi cerita yang akan terus dikenang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebagaimana doa yang terus dipanjatkan oleh keluarga, sahabat, dan masyarakat:
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya."
Selamat jalan, H. M. Nur Abubakar. Pengabdianmu telah menjadi cahaya yang menerangi banyak kehidupan.***





