Jenazah Warga Pidie Jaya Tiba di Aceh, Proses Pemulangan Dibantu GAB Malaysia dan Haji Uma
Font Terkecil
Font Terbesar
PIDIE JAYA | PASESATU.COM – Kabar duka menyelimuti keluarga besar komunitas perantau Aceh di Malaysia atas meninggalnya Maryani binti Andid (48), warga asal Gampong Blang Baro, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.
Almarhumah sempat menjalani perawatan medis sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir di Pulau Pinang Hospital, Malaysia pada Rabu (3/6/2026), akibat penyakit stroke dan komplikasi yang deritanya. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga di kampung halaman serta sesama perantau Aceh di Malaysia yang mengenalnya sebagai sosok pekerja keras dan penuh pengorbanan.
Sebelum meninggal, Maryani bekerja di sebuah restoran di Pulau Pinang. Puluhan tahun hidup di negeri orang dijalaninya demi mencari nafkah dan membantu keluarga di kampung halaman. Namun takdir berkata lain. Setelah lebih dari dua dekade merantau, ia akhirnya pulang ke Aceh bukan untuk menikmati masa tua, melainkan dalam keadaan terbujur kaku.
Proses pemulangan jenazah sempat menghadapi hambatan serius. Almarhumah diketahui tidak memiliki dokumen identitas resmi yang lengkap. Satu-satunya dokumen yang dimiliki hanyalah kartu United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR).
Kondisi tersebut membuat proses administrasi dan pengeluaran jenazah dari rumah sakit menjadi rumit serta membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Namun di tengah kesulitan itu, kepedulian sesama anak bangsa kembali menunjukkan maknanya.
Berkat pendampingan dan kerja keras Grup Aceh Bersatu (GAB) Malaysia, berbagai kendala administrasi akhirnya berhasil diselesaikan. Setelah melalui proses yang cukup panjang, jenazah Maryani dapat dikeluarkan dari rumah sakit dan dipersiapkan untuk pemulangan ke tanah kelahirannya.
Jenazah Maryani akhirnya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar pada Sabtu (6/6/2026) pagi yang disambut oleh tim anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman Haji Uma, S.Sos, M.Sos. Selanjutnya jenazah pulangkan ke Pidie Jaya menggunakan mobil ambulance dan turut didampingi oleh tim Haji Uma.
Biaya pengurusan dan pemulangan jenazah dari Malaysia mencapai sekitar RM5.300 atau setara Rp23 juta. Seluruh biaya ditanggung oleh pemilik restoran tempat almarhumah bekerja sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya selama lebih dari dua dekade. Sementara Haji Uma membantu biaya kargo bandara dan mobil ambulance yang mengantar jenazah hingga ke kampung halaman.
Bantuan tersebut menjadi bukti nyata solidaritas dan kepedulian sesama warga Aceh yang mengalami musibah di perantauan. Atas hal itu, pihak keluarga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pengurusan hingga pemulangan jenazah.
Pihak keluarga mengapresiasi peran dan kontribusi dari Grup Aceh Bersatu (GAB) di Malaysia yang diketuai Junaidi R, pihak majikan, serta para dermawan, termasuk Haji Uma yang telah meringankan beban keluarga di tengah suasana duka.
Kisah pemulangan jenazah Maryani adalah bukti bahwa solidaritas kuat, rasa peduli dan sinergi menjadi modal penting yang tidak hanya dapat menyelesaikan masalah, namun juga menjadi perekat persatuan dan ikatan persaudaraan solid sesama warga Aceh dimanapun berada.
Maryani adalah potret perjuangan ribuan perantau yang menghabiskan masa muda mereka jauh dari kampung halaman demi keluarga tercinta. Bertahun-tahun bekerja di negeri orang, menahan rindu kepada orang tua, saudara, dan tanah kelahiran. Namun tidak semua memiliki kesempatan untuk pulang dengan senyum kebahagiaan.
Maryani pergi jauh untuk mencari nafkah. Selama 23 tahun ia mengabdikan hidupnya di tanah rantau. Dan ketika akhirnya kembali ke Aceh, ia pulang dalam balutan kain kafan, diiringi doa, tangis, dan kerinduan keluarga yang telah lama menantinya.
Ia berangkat dengan harapan untuk membahagiakan keluarga. Ia kembali tanpa kata-kata, dalam keheningan yang menyisakan air mata. Setelah 23 tahun merantau, Maryani akhirnya pulang ke tanah kelahirannya, bukan dengan langkah kaki, melainkan dipeluk doa-doa yang mengantarnya menuju keabadian.
Semoga almarhumah Maryani binti Andid mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan dalam menghadapi musibah ini. Aamiin Ya Rabbal Alamin.***





