BERITA TERKINI

Pemimpin yang Dilupakan Lebih Mulia daripada Penipu yang Dipuja

Pemimpin yang Dilupakan Lebih Mulia daripada Penipu yang Dipuja

Potret sastrawan Indonesia yang dikenal kritis terhadap persoalan kemanusiaan, demokrasi, dan kekuasaan melalui karya-karya sastranya.. Dok Ist


ACEH UTARA | PASESATU.COM — Kutipan tajam sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer kembali menjadi sorotan di tengah dinamika politik dan sosial yang dinilai semakin dipenuhi pencitraan.

“Bagaimanapun, masih lebih baik dan lebih beruntung pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya daripada seorang penipu yang berhasil menjadi pemimpin dan memiliki banyak pengikut,” demikian kutipan Pramoedya yang kini dianggap semakin relevan dengan kondisi zaman.

Di tengah masyarakat yang setiap hari disuguhi janji, slogan, dan pencitraan politik, sosok pemimpin yang benar-benar bekerja untuk rakyat justru kerap tenggelam dalam kesunyian. Mereka menjalankan amanah tanpa banyak sorotan, tidak sibuk membangun popularitas, bahkan terkadang terlupakan setelah masa jabatan berakhir. Namun, jejak pengabdiannya tetap dirasakan melalui manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebaliknya, tidak sedikit pemimpin yang tampil seolah menjadi pahlawan di ruang publik. Mereka pandai merangkai kata-kata, lihai memainkan emosi massa, tetapi di balik itu menyimpan kepentingan pribadi dan tipu daya. Ironisnya, figur seperti ini sering kali berhasil membangun pengikut fanatik yang membela tanpa sikap kritis.

Fenomena tersebut dinilai menjadi ancaman bagi kehidupan demokrasi. Ketika kebohongan dipoles menjadi seolah-olah kebenaran, sementara pengkhianatan dibungkus dengan slogan kepedulian, masyarakat perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara pemimpin yang bekerja nyata dan pemimpin yang sekadar menjual mimpi.

“Pemimpin yang baik mungkin dilupakan karena bekerja dengan hati. Tetapi penipu selalu berusaha dikenang lewat sandiwara,” ujar seorang warga di Aceh Utara, Rabu (13/5/2026).

Kutipan Pramoedya itu menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak pengikut yang memujinya, melainkan seberapa jujur ia menjaga amanah rakyat. Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling pandai berbohong, tetapi siapa yang paling tulus memperjuangkan kebenaran.

Profil Singkat Pramoedya Ananta Toer

  • Nama: Pramoedya Ananta Toer
  • Lahir: 6 Februari 1925 di Blora
  • Wafat: 30 April 2006 di Jakarta
  • Kebangsaan: Indonesia
  • Pendidikan: Universitas Islam Indonesia
  • Orang tua: Mastoer Imam Badjoeri dan Oemi Saidah
  • Saudara kandung: Soesilo Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Oemisafaatoen Toer, Prawito Toer, dan lainnya
  • Anak: Astuti Ananta Toer, Setyaning Rakyat Ananta Toer, Yudisthira Ananta Toer, dan lainnya
  • Penghargaan: Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature, and Creative Communication Arts.***
Penulis : Abdul Rafar