Kopi Malam di Perbatasan: Hangat Selepas Tarawih di Bawah Cahaya Lampu Kota
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH TIMUR | PASESATU.COM — Selepas Shalat Tarawih, malam di perbatasan Aceh Timur–Aceh Utara perlahan berubah menjadi ruang yang penuh cerita. Di antara cahaya lampu toko yang berpendar lembut dan suara kendaraan yang tak pernah benar-benar reda, segelas kopi hitam terdiam hangat di atas meja kayu seolah menunggu untuk ditemani.
Di sudut kedai sederhana, secangkir kopi pekat dalam gelas kaca kecil bukan sekadar minuman, melainkan perantara rasa. Uap tipis yang naik perlahan seperti membawa bisikan malam tentang rindu yang diam-diam disimpan, tentang lelah yang akhirnya menemukan tempat pulang.
Di kawasan Tanjung Minjei, Kecamatan Madat, waktu seakan berjalan lebih pelan. Obrolan mengalir tanpa tergesa, tawa pecah tanpa alasan besar, dan bahkan diam pun terasa cukup berarti.
Bagi masyarakat Aceh, kopi adalah bahasa yang tak selalu membutuhkan kata. Ia menyatukan yang jauh, mendekatkan yang lama tak bersua, dan menjadi saksi dari cerita-cerita yang tak pernah benar-benar selesai.
Di balik pahitnya kopi yang perlahan habis, tersisa hangat yang bertahan lebih lama seperti rindu yang tak ingin segera pulang, dan malam yang diam-diam berharap tak cepat berakhir.(*)
