Empat Bulan Pascabanjir, Satu Keluarga di Aceh Utara Masih Tinggal di Tenda Menjelang Lebaran
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana persiapan Lebaran biasanya mulai terasa di berbagai kampung. Warga membersihkan rumah, memperbaiki dinding yang kusam, hingga menyiapkan kue-kue tradisional untuk menyambut hari kemenangan.
Namun suasana berbeda terlihat di Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara. Di atas tanggul irigasi desa tersebut, sebuah tenda darurat berwarna oranye berdiri di antara hamparan tanah yang masih menyimpan jejak banjir.
Tenda itu kini menjadi tempat tinggal Khairul Nisa bersama suaminya, Idris, serta dua anak mereka yang masih kecil. Keluarga ini kehilangan rumah akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada malam 26 November 2025.
Empat bulan telah berlalu sejak peristiwa itu. Air telah surut dan lumpur mengering. Sebagian warga mulai memperbaiki rumah mereka. Namun keluarga Khairul Nisa hingga kini masih bertahan di tenda darurat di atas tanggul.
“Waktu banjir datang, air naik sangat cepat. Saya tidak sempat menyelamatkan apa pun dari rumah,” kata Khairul Nisa saat ditemui di lokasi.
Dalam situasi panik malam itu, ia hanya sempat menyelamatkan kedua anaknya. Anak yang lebih kecil digendong, sementara yang lebih besar digandeng menuju tempat yang lebih tinggi.
“Saya hanya memikirkan anak-anak. Yang penting mereka selamat,” ujarnya.
Sejak saat itu, kehidupan keluarga tersebut berlangsung di dalam tenda sederhana. Tikar tipis digunakan sebagai tempat tidur, sementara terpal menjadi pelindung dari panas dan angin malam.
Saat Ramadan, Khairul Nisa tetap menjalankan rutinitas sahur dan berbuka puasa bersama keluarganya di dalam tenda. Ia memasak menggunakan kompor kecil dengan menu sederhana.
Ketika waktu berbuka tiba, mereka makan bersama di atas tikar yang sama.
Beberapa hari lalu, salah satu anaknya sempat bertanya tentang rencana Lebaran tahun ini.
“Ibu, kita Lebaran di rumah, kan?” kata anaknya, menirukan kembali pertanyaan tersebut.
Pertanyaan itu membuat Khairul Nisa terdiam. Ia mengaku tidak sanggup menjawab secara langsung.
“Saya menangis di belakang tenda supaya anak-anak tidak melihat,” katanya.
Sementara itu, Idris mengaku masih berupaya mencari cara agar keluarganya dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
“Saya ini kepala keluarga. Tapi sampai sekarang saya belum bisa memberikan rumah lagi untuk anak dan istri saya,” ujarnya.
Ia berharap ada bantuan yang dapat membantu keluarganya membangun kembali rumah yang hilang akibat banjir.
Menjelang Lebaran, keluarga ini masih menjalani hari-hari di tenda darurat di atas tanggul irigasi desa. Bagi mereka, kebahagiaan Lebaran tahun ini tidak berkaitan dengan pakaian baru atau hidangan khas hari raya.
Mereka hanya berharap dapat kembali memiliki sebuah rumah untuk pulang.(*)
