Aceh Bergantung pada Sumut Saat Petani Lokal Tersungkur
ACEH UTARA | PASESATU.COM— Harga cabai di Pasar Panton Labu anjlok tajam. Sekilas ini kabar baik bagi masyarakat. Namun di balik turunnya harga, tersimpan fakta yang mengkhawatirkan: Aceh kini bergantung penuh pada pasokan dari luar daerah.
Dalam beberapa hari terakhir, harga cabai merah jatuh dari Rp50.000 menjadi Rp25.000 per kilogram. Cabai rawit yang sempat menyentuh Rp60.000 kini turun ke angka Rp25.000. Sementara cabai hijau merosot dari Rp40.000 menjadi sekitar Rp20.000 per kilogram.
Penurunan drastis ini bukan karena keberhasilan petani lokal. Justru sebaliknya—pasokan cabai dari Aceh nyaris tak terlihat di pasar.
Seluruh komoditas cabai yang beredar saat ini didominasi kiriman dari Berastagi, Sumatera Utara, yang tengah memasuki masa panen raya.
“Meskipun harga turun, semua cabai dari Berastagi. Di Aceh masih terdampak. Sekarang di Tanah Karo lagi panen raya,” kata Abdul Azis, seorang pedagang, Jumat, 27 Maret 2026.
Fakta ini membuka ironi yang tak terbantahkan. Di satu sisi, masyarakat menikmati harga murah. Di sisi lain, Aceh kehilangan perannya sebagai daerah penghasil dan berubah menjadi pasar bagi produk luar.
Para pedagang mengakui, hingga kini belum ada pasokan berarti dari petani lokal. Sektor pertanian di Aceh masih terpuruk akibat dampak bencana dan belum pulih sepenuhnya.
Ketergantungan ini bukan tanpa risiko. Pasokan yang sepenuhnya berasal dari luar membuat harga dan ketersediaan cabai di Aceh bergantung pada kondisi daerah lain. Jika distribusi terganggu atau panen menurun di luar daerah, dampaknya akan langsung terasa di pasar lokal.
Situasi ini menjadi sinyal bahaya bagi ketahanan pangan daerah. Ketika produksi lokal melemah, kemandirian pangan pun ikut tergerus.
Sejumlah pihak menilai, kondisi ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah. Pemulihan sektor pertanian, terutama lahan yang terdampak bencana, dinilai mendesak untuk segera dipercepat.
Tanpa langkah nyata, Aceh berisiko semakin dalam bergantung pada daerah lain—bukan hanya untuk cabai, tetapi juga komoditas pangan lainnya.
Di tengah kondisi ini, harapan masyarakat tetap sederhana: petani lokal bangkit, lahan kembali produktif, dan pasar Aceh tidak lagi dikuasai pasokan dari luar.
Sebab di balik harga murah hari ini, tersimpan ancaman besar untuk masa depan.(*)


