UNS Bersama TNI Pulihkan Puskesmas dan Sekolah di Langkahan, Lumpur Capai Setinggi Pinggang
Font Terkecil
Font Terbesar
Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana (BKPB) turun langsung menangani dampak banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Fokus utama pengabdian dilakukan pada pemulihan layanan kesehatan dasar dan pendidikan yang lumpuh akibat terjangan lumpur tebal.
Salah satu titik terparah adalah Puskesmas Langkahan, yang pada awal asesmen dinyatakan tidak dapat beroperasi sama sekali. Lumpur bercampur sampah sawit menutup hampir seluruh ruangan pelayanan medis.
“Kami menemukan lumpur setinggi lutut hingga di atas lutut. Bahkan di gudang farmasi hampir setinggi pinggang orang dewasa. Pelayanan medis dasar benar-benar lumpuh,” kata Muhammad Solihin, staf BKPB UNS, Senin (19/1/2026).
Menurut Solihin, langkah awal tim adalah melakukan asesmen lapangan. Hasilnya, puskesmas dinilai sebagai titik paling krusial karena tidak berfungsinya layanan kesehatan di tengah bencana.
Pembersihan dilakukan secara masif selama enam hari kerja, melibatkan satu unit ekskavator, dua dump truck, armada pemadam kebakaran untuk menyemprot lumpur, serta dukungan 10 personel TNI. Lumpur yang mengendap tidak bisa dibersihkan secara manual, sehingga harus dicairkan dengan nozzle bertekanan tinggi sebelum diangkut keluar.
“Ruang farmasi, alat medis, hingga timbangan kesehatan semuanya rusak total. Tidak ada lagi yang bisa langsung digunakan,” ujarnya.
Selain puskesmas, tim UNS juga memulihkan SD Negeri Langkahan yang belum tersentuh bantuan relawan saat asesmen awal. Sekolah dengan 11 ruang kelas itu dipenuhi lumpur dan sampah, membuat kegiatan belajar-mengajar mustahil dilakukan.
Pembersihan sekolah memakan waktu sekitar 10 hari kerja, termasuk membersihkan ruang kelas dan halaman, agar dapat kembali digunakan untuk kegiatan pendidikan sejak 5 Januari 2026.
Untuk mendukung pembersihan dua lokasi tersebut, BKPB UNS menyewa alat berat dengan biaya Rp10 juta per hari selama empat hari. Di lokasi juga sempat diperkuat oleh ekskavator milik Kementerian Kehutanan.
Sementara itu, tim medis UNS tidak menetap di puskesmas, melainkan bergerak secara mobile dari satu titik pengungsian ke titik lainnya. Layanan difokuskan pada pengungsi yang tersebar di tenda-tenda, mengingat fasilitas kesehatan dan ambulan di wilayah tersebut rusak berat.
“Dua unit ambulans rusak dan tidak bisa digunakan. Selain itu, banyak tenaga puskesmas juga terdampak karena rumah mereka ikut kebanjiran,” jelas salah satu dokter relawan UNS.
Tim medis UNS diterjunkan secara bergilir, dengan delapan gelombang tim yang masing-masing bertugas selama 10 hari. Pola ini diterapkan berdasarkan pengalaman penanganan bencana sebelumnya di Palu, Merapi, dan Lombok, di mana tim SAR dan tim medis harus berjalan beriringan.
Kegiatan UNS ini tidak hanya berfokus pada pembersihan fisik, tetapi juga pemulihan layanan dasar agar roda kehidupan warga terdampak banjir dapat kembali berjalan, meski dalam keterbatasan fasilitas pascabencana.(*)
