Dua Gadis Bertahan di Atas Gelondongan Kayu, Jejak Banjir Langkahan Masih Membekas
Font Terkecil
Font Terbesar
Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Dua gadis asal Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, tampak berdiri di atas gelondongan kayu besar yang terseret arus banjir bandang sejak 26 November 2025 lalu.
Dengan tatapan kosong, keduanya menyaksikan sisa-sisa bencana yang hingga kini masih membekas, termasuk rumah mereka yang rusak berat akibat terjangan air dan material kayu.
Hampir dua bulan setelah bencana terjadi, dampak banjir masih terlihat jelas di desa tersebut. Sejumlah rumah warga masih tertimbun kayu gelondongan, sementara jalan desa dipenuhi lumpur dan puing-puing, sehingga aktivitas warga belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini juga menghambat proses pembersihan dan distribusi bantuan.
Warga setempat menyebutkan, upaya pembersihan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat dan relawan. Namun, keterbatasan alat dan tenaga membuat proses tersebut berjalan lambat. Banyak rumah dilaporkan hilang atau rusak berat, sementara bantuan hunian sementara maupun perbaikan rumah dinilai belum mencukupi.
“Kami berharap pemerintah segera membangun kembali rumah warga yang hilang, karena sampai sekarang sebagian masih bertahan di tempat seadanya,” ujar seorang warga terdampak.
Selain kehilangan tempat tinggal, banjir juga berdampak pada mata pencaharian warga. Sejumlah ladang dan kebun rusak, membuat sebagian keluarga kehilangan sumber penghasilan. Anak-anak pun terpaksa beraktivitas di sekitar puing kayu dan lumpur yang masih berserakan, kondisi yang dinilai berisiko bagi keselamatan mereka.
Pemerintah desa bersama relawan terus berupaya membersihkan material banjir, namun warga berharap adanya dukungan lebih besar dari pemerintah daerah hingga pusat, terutama untuk percepatan pembangunan hunian baru dan langkah mitigasi bencana agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Banjir besar yang melanda Desa Geudumbak dan beberapa desa lain di Kecamatan Langkahan menjadi pengingat akan tingginya kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana hidrometeorologi. Situasi ini menuntut perhatian serius dan penanganan berkelanjutan demi keselamatan serta pemulihan kehidupan masyarakat.
Tatapan dua gadis di atas gelondongan kayu itu seolah menjadi cermin dari dampak bencana yang belum sepenuhnya teratasi. Di Desa Geudumbak, rumah boleh hanyut oleh banjir, namun harapan warga untuk bangkit dan mendapatkan keadilan pemulihan tetap bertahan.(*)
