Di Antara Lumpur, Air Mata, dan Nama Sawamah
Font Terkecil
Font Terbesar
"Di pengungsian, Sawamah duduk lebih banyak diam. Matanya sering menatap kosong"
Oleh: Zulkifli Aneuk Syuhada
Sekretaris Gampong Pante Rambong
Banjir tidak pernah memilih siapa yang paling siap. Ia datang tiba-tiba, membawa air, lumpur, dan kehilangan. Di Gampong Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, kami menyaksikan bagaimana hidup yang sederhana sekalipun dapat runtuh dalam hitungan jam.
Saya menulis ini dengan dada yang masih berat. Lumpur mungkin mulai mengering, tetapi ingatan tentang malam itu masih basah di kepala kami. Air naik cepat. Teriakan saling memanggil terdengar di lorong-lorong gelap. Sebagian warga hanya sempat menyelamatkan diri, meninggalkan rumah dan kenangan di belakang.
Di antara mereka ada Sawamah, seorang wanita lansia yang hidup sebatang kara. Malam banjir itu, ia tidak membawa apa-apa. Tidak pakaian, tidak beras, tidak uang. Rumah kecil yang selama ini ia tempati nyaris tak bisa diselamatkan. Sawamah hanya menggenggam tas kain lusuh—entah apa isinya, entah apa yang sempat ia selamatkan.
Di pengungsian, Sawamah duduk lebih banyak diam. Matanya sering menatap kosong. Ketika saya tanya apakah ia sudah makan, ia mengangguk pelan, meski piringnya nyaris tak tersentuh. "Masih ada yang lebih susah". katanya lirih. Kalimat pendek itu menusuk saya lebih dalam daripada tangisan.
Hari-hari di pengungsian adalah hari-hari yang panjang bagi Sawamah. Tubuh renta, udara dingin malam hari, dan kenangan rumah yang tak lagi aman membuatnya sering terbangun. Ia bertahan dengan kesabaran yang tidak banyak bicara.
Dalam kondisi seperti inilah, kami menyadari bahwa bantuan bukan sekadar logistik, tetapi soal menjaga martabat manusia.
Dari seberang negeri, kepedulian itu datang. Cek Kamarul, warga negara Malaysia, menyisihkan sebagian hartanya untuk menghidupkan dapur umum bagi korban banjir di Pante Rambong. Dari dapur itu, makanan hangat mengalir ke tangan-tangan gemetar, termasuk ke tangan Sawamah. Sepiring nasi dan kuah hangat itu mungkin sederhana, tetapi bagi seorang lansia yang kelelahan, itu adalah penguat hidup.
Tidak hanya itu, Cek Kamarul juga memfasilitasi penyaluran zakat dari Encik Razif Razak, yang kemudian disalurkan kepada 18 kepala keluarga korban banjir, termasuk keluarga-keluarga paling rentan di gampong kami. Ketika zakat itu sampai, Sawamah menunduk lama. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya air mata yang jatuh perlahan, membasahi ujung kain bajunya.
Kami juga menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Puan Aznyda binti Yakub dari Putrajaya, Malaysia. Kepedulian beliau, bersama para dermawan lainnya, menjadi bukti bahwa kasih sayang bisa melintasi batas negara, bahasa, dan latar belakang.
Sebagai Sekretaris Gampong, saya menyaksikan satu per satu wajah warga yang mulai kembali memiliki harapan. Bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena mereka merasa tidak dilupakan. Sawamah pun kini masih bertahan di pengungsian. Ia belum tahu ke mana akan pulang. Namun setidaknya, ia tidak lagi sendiri.
Banjir mungkin merenggut rumah dan harta kami, tetapi ia juga memperlihatkan siapa yang benar-benar hadir saat kami jatuh. Dari lumpur Pante Rambong, kami ingin menyampaikan terima kasih yang tidak akan pernah cukup terucap.
Untuk Cek Kamarul, Encik Razif Razak, dan Puan Aznyda binti Yakub: kebaikan kalian telah menjadi penghangat hidup seorang lansia bernama Sawamah, dan ratusan warga lainnya. Semoga Allah membalas setiap niat baik itu dengan pahala yang berlipat, dan semoga kisah Sawamah menjadi saksi bahwa kemanusiaan masih hidup bahkan di tengah bencana. (*)
