BERITA TERKINI

Dua Bulan Pascabanjir Bandang, Dusun Pateng Aceh Utara Masih Jadi “Lautan Kayu”

Penulis :  Abdul Rafar | Editor : Syahrul

ACEH UTARA | PASESATU.COM — Dua bulan berlalu sejak banjir bandang melanda Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada 26 November 2025. Namun hingga Senin (2/2/2026), kondisi Dusun Pateng belum menunjukkan pemulihan berarti. Seluruh kawasan permukiman warga masih tertimbun tumpukan kayu gelondongan, sunyi, dan kehilangan aktivitas kehidupan.

Dusun Pateng kini tak lagi dapat disebut sebagai permukiman. Tumpukan batang kayu berukuran besar menutup seluruh tapak rumah warga. Tidak satu pun bangunan tersisa, baik rumah kayu maupun rumah permanen. Arus deras dari hulu sungai pada hari bencana meluluhlantakkan hunian beserta seluruh harta benda warga dalam waktu singkat.


“Tidak ada rumah yang tersisa. Semua habis disapu banjir,” ujar seorang warga Dusun Pateng, mengenang peristiwa tersebut dengan mata berkaca-kaca.

Pascabencana, warga Dusun Pateng tidak memiliki tempat untuk kembali. Hingga kini belum ada kepastian relokasi maupun pembangunan hunian pengganti. Tanpa proses pembersihan material kayu yang memadai, warga terpaksa mengungsi dan bertahan hidup di kawasan perbukitan sekitar desa.


Di lokasi pengungsian, warga membangun tempat tinggal darurat seadanya. Mereka menghadapi keterbatasan fasilitas dasar, mulai dari akses air bersih hingga perlindungan dari cuaca. Anak-anak tumbuh dalam kondisi pengungsian, sementara para lansia bertahan di tengah keterbatasan dan risiko kesehatan.

Setiap kali hujan turun, kecemasan kembali menyelimuti para pengungsi. Kekhawatiran akan longsor dan banjir susulan terus menghantui, di tengah ketidakpastian masa depan.


Sementara itu, Dusun Pateng di bagian bawah desa masih terkunci oleh tumpukan kayu sisa banjir bandang. Tanpa dukungan alat berat dan penanganan skala besar, warga tidak mampu membersihkan kawasan tersebut secara mandiri. Dusun itu seolah terabaikan, bersama kenangan dan harapan warga yang ikut tertimbun.

Memasuki awal 2026, belum terlihat langkah konkret pembersihan kawasan maupun kejelasan rencana relokasi bagi warga yang kehilangan rumah secara total. Bantuan logistik yang diterima warga bersifat sementara, sementara kebutuhan hunian layak dan jaminan kehidupan pascabencana belum terpenuhi.


Warga berharap pemerintah daerah dan pemerintah pusat segera mengambil langkah nyata, mulai dari pembersihan material kayu, penetapan lokasi relokasi, hingga pembangunan hunian yang layak dan aman. Bagi mereka, pemulihan bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan kepastian untuk melanjutkan kehidupan secara manusiawi.

Langit mendung yang menggantung di atas Dusun Pateng hari itu seakan mencerminkan perasaan para pengungsi di perbukitan sunyi, suram, namun tetap menyimpan harapan. Di antara tenda-tenda darurat dan pepohonan, mereka hanya menginginkan satu hal: dapat kembali pulang, meski tidak lagi ke rumah yang sama.(*)