Tiga Malam di Atas Pohon: Aisyah dan Luka yang Tertinggal Setelah Banjir Aceh Utara
![]() |
| Ratusan ahli waris korban meninggal dunia bencana alam menerima santunan dari kementerian sosial, Sabtu (24/01/2026). Foto : Syahrul |
Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada 26 November 2025 meninggalkan duka mendalam bagi warga Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan. Namun bagi Aisyah, bencana itu menjadi peristiwa paling kelam sepanjang hidupnya.
Air bercampur lumpur datang tiba-tiba dan naik dengan cepat. Dalam situasi darurat tersebut, suaminya, Ibrahim, yang telah mengalami kelumpuhan selama empat tahun dan berada dalam kondisi sangat lemah, tidak sempat dievakuasi. Sejumlah warga sempat berupaya menolong, namun tidak sanggup menggendong tubuh Ibrahim ke tempat yang lebih tinggi.
Dalam kepanikan, Aisyah terpisah dari keluarganya.
![]() |
| Aisyah dan Ibrahim saat menunggu santunan korban meninggal dunia dari kementerian sosial |
Malam itu, tanpa cahaya dan tanpa kepastian, Aisyah memanjat sebuah pohon demi menyelamatkan diri. Di sanalah ia bertahan selama tiga malam empat hari tanpa makanan, tanpa minuman, hanya berpegangan pada dahan pohon, ditemani hujan, dingin, dan rasa takut yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Setiap malam saya kira itu malam terakhir saya,” tutur Aisyah pelan, matanya berkaca-kaca, saat ditemui kemudian.
Yang paling menyiksa bagi Aisyah bukan hanya lapar dan kelelahan, melainkan ketidakpastian. Selama terjebak di atas pohon, ia tidak mengetahui nasib suaminya. Ia tidak tahu apakah Ibrahim selamat atau telah meninggal dunia. Penantian tanpa kabar itu menggerogoti batinnya, lebih dalam daripada dingin yang menusuk tubuhnya.
Di saat yang sama, duka datang beruntun.
Cucunya yang baru berusia 20 hari dinyatakan meninggal dunia setelah terseret arus banjir. Beberapa hari kemudian, kabar lebih buruk menyusul. Anak Aisyah ibu dari bayi tersebut ditemukan pada hari ketujuh pascabencana dalam kondisi meninggal dunia.
Berita kematian itu baru diketahui Aisyah setelah ia berhasil diselamatkan. Seolah hidup memberinya kesempatan bertahan hanya untuk menghadapi kenyataan paling pahit.
Kini, rumah yang pernah menjadi tempat pulang tak lagi layak dihuni. Aisyah dan suaminya mengungsi dan menetap di Gampong Alue Leuhop, Kecamatan Cot Girek wilayah yang lebih aman dari ancaman banjir, namun tidak pernah benar-benar aman dari kenangan.
Pada Sabtu, 25 Januari 2026, Aisyah hadir di Aula Kantor Bupati Aceh Utara untuk menerima santunan kematian dari pemerintah. Penyerahan bantuan tersebut merupakan bagian dari agenda resmi yang turut dihadiri Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf.
Santunan sebesar Rp15 juta diterima Aisyah dengan tangan gemetar. Namun baginya, bantuan itu bukan untuk mengganti kehilangan.
“Uang ini rencananya akan saya sedekahkan untuk masjid, membuat kuburan anak dan cucu saya, dan saya akan buat khanduri,” ujarnya sambil menunduk. Air mata jatuh membasahi jilbab yang dikenakannya.
Aisyah tidak meminta rumah baru. Tidak pula menuntut harta. Di usia senjanya, yang ia inginkan hanyalah menutup duka dengan doa.
Kisah Aisyah menjadi potret paling sunyi dari sebuah bencana, ketika seorang ibu lansia bertahan hidup sendirian di atas pohon, ketika seorang nenek kehilangan cucu yang bahkan belum sempat menyebut namanya, dan ketika air banjir telah lama surut, tetapi rasa takut, lapar, dan kehilangan itu tidak pernah benar-benar pergi.(*)

