Merah Putih di Tengah Puing: Dua Bulan Pascabanjir, Warga Sarah Gala Masih Menunggu Pemulihan
Dua bulan telah berlalu. Namun bagi warga Sarah Gala, waktu seolah berhenti tepat di hari ketika air bah datang membawa lumpur, batang kayu besar, dan kerusakan yang belum sepenuhnya tertangani.
Pantauan di lapangan pada Minggu, 25 Januari 2026, menunjukkan kondisi dusun tersebut nyaris tak banyak berubah. Puing-puing kayu berukuran besar masih berserakan di lahan perkebunan dan sekitar permukiman warga. Aktivitas pembersihan masih dilakukan secara terbatas dan manual, tanpa dukungan alat berat yang memadai.
Kayu Besar yang Mengurung Kehidupan
Kayu-kayu gelondongan yang diduga terbawa arus dari kawasan hulu kini menjadi penghalang utama pemulihan. Selain menutup lahan kebun, material tersebut juga membatasi akses dan memperlambat upaya warga untuk kembali beraktivitas secara normal.
Sejumlah warga menyebut, sejak awal mereka telah menyampaikan kebutuhan utama pascabencana bukan lagi bantuan konsumsi, melainkan dukungan peralatan untuk membersihkan material berat. Tanpa itu, pemulihan berjalan sangat lambat.
“Kalau hanya tenaga manusia, tidak sanggup. Kayunya besar-besar,” ujar seorang warga sambil menunjuk kebunnya yang tertimbun.
Perkebunan Rusak, Penghasilan Terhenti
Dusun Sarah Gala selama ini bergantung pada hasil perkebunan pinang dan sawit rakyat. Pascabanjir, ratusan batang tanaman terlihat patah, rebah, dan membusuk di bawah timbunan kayu. Bagi warga, kerusakan ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal keberlangsungan hidup.
Hingga akhir Januari 2026, warga mengaku belum melihat adanya pendataan kerugian secara menyeluruh maupun informasi jelas terkait skema pemulihan ekonomi pascabencana. Kondisi tersebut membuat sebagian warga terpaksa bertahan tanpa kepastian penghasilan.
Luka Psikologis yang Sunyi
Selain kerusakan fisik, banjir bandang juga meninggalkan dampak psikologis yang belum banyak tersentuh. Beberapa warga tampak beraktivitas dengan wajah lelah, membersihkan sisa-sisa kayu sambil membakar ranting kecil sebagai satu-satunya cara membuka lahan.
Program pendampingan psikososial disebut belum berjalan secara rutin. Trauma dan kekhawatiran warga menghadapi potensi bencana susulan kerap terabaikan, meski menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Simbol Negara di Tengah Penantian
Di tengah kondisi itu, bendera Merah Putih tetap berkibar. Ia menjadi penanda bahwa wilayah ini adalah bagian dari Indonesia dan bahwa warga Sarah Gala adalah warga negara yang berharap negara hadir tidak hanya lewat simbol, tetapi juga melalui langkah nyata pemulihan.
Warga berharap adanya penanganan lanjutan yang lebih terstruktur, mulai dari pembersihan material kayu secara menyeluruh, pendataan kerugian, hingga program pemulihan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Menunggu Lebih dari Sekadar Janji
Dua bulan pascabencana, pertanyaan tentang kelanjutan penanganan masih mengemuka di tengah masyarakat. Bagi warga Sarah Gala, pemulihan bukan hanya soal menghapus jejak banjir, tetapi mengembalikan kehidupan yang sempat terhenti.
Jika tak segera ditangani secara komprehensif, banjir bandang 26 November 2025 akan terus meninggalkan jejak panjang bukan hanya pada lanskap desa, tetapi juga pada ingatan dan keseharian warganya.
Dan di antara puing kayu yang belum tersingkir itu, Merah Putih terus berkibar, menjadi saksi bisu dari penantian yang belum usai.(*)
