Di Tengah Keterbatasan, Lantunan Al-Qur’an Mengiringi Malam di Kemah Pengungsian
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Suasana gelap menyelimuti sebuah kemah pengungsian korban banjir pada Selasa malam, 30 Desember 2025. Tidak adanya aliran listrik membuat area pengungsian terpaksa bergantung pada penerangan seadanya. Di tengah kondisi tersebut, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar pelan dari dalam kemah, menemani warga yang berupaya bertahan di tengah keterbatasan.
Sejumlah anak tampak duduk berdekatan dengan orang tua mereka, sementara para lansia beristirahat di alas tipis di dalam kemah yang lembap. Ketiadaan lampu membuat aktivitas malam hari menjadi terbatas dan menambah rasa tidak nyaman bagi para pengungsi, terutama anak-anak dan orang lanjut usia.
Sejak banjir melanda kawasan permukiman dan memaksa warga meninggalkan rumah, kemah pengungsian menjadi tempat tinggal sementara. Malam hari disebut sebagai waktu paling sulit, karena gelap dan dingin kerap memicu rasa cemas, khususnya bagi anak-anak.
“Kalau malam memang berat. Anak-anak sering menangis karena gelap, orang tua juga susah tidur. Di sini belum ada lampu,” ujar salah seorang pengungsi.
Dalam situasi tersebut, sebagian warga memilih membaca dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an sebagai bentuk penguatan batin. Kegiatan itu dilakukan secara sederhana dan bergantian, sembari memanjatkan doa agar kondisi segera membaik.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah pengungsi masih berharap adanya tambahan fasilitas dasar, terutama penerangan dan perlengkapan pendukung lainnya, guna menunjang kebutuhan di malam hari selama berada di lokasi pengungsian.(*)
