Memikul Harapan di Tengah Sawah Berlumpur: Kisah Petani Merbo Lama

Seorang petani di Gampong Merbo Lama, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, memikul padi hasil panen secara manual. Kondisi lahan berlumpur membuat mesin panen tidak bisa masuk, sementara harga gabah kering saat ini hanya Rp6.700 per kilogram, sedikit di atas HPP pemerintah Rp6.500. Foto Syahrul Usman / PASESATU.COM
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Hamparan sawah di Gampong Merbo Lama, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, mulai menguning. Di antara suara sabit yang beradu dengan batang padi, seorang petani tampak memikul gabah hasil panennya dengan langkah tegar.
Di desa ini, panen masih dilakukan secara tradisional. Kondisi lahan yang bergelombang dan berlumpur membuat mesin pemanen modern (combined harvester) tidak bisa dioperasikan.
“Panen harus manual karena lahan tidak bisa dilalui mesin. Sawah becek dan bergelombang, jadi hanya bisa dipotong dengan sabit,” ujar seorang petani setempat, Rabu (3/9/2025).
Saat ini, harga gabah kering di tingkat petani di Kecamatan Lapang berada di kisaran Rp6.700 per kilogram. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional, yakni Rp6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP). Kebijakan ini mulai berlaku sejak 15 Januari 2025 sebagai upaya melindungi petani dan menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Namun, harga jual yang lebih tinggi dari HPP belum sepenuhnya menutupi biaya produksi. Petani mengaku masih merasakan beban berat akibat kenaikan harga pupuk, pestisida, dan upah tenaga panen.
“Memang sekarang harganya di atas HPP, tapi tetap terasa berat. Biaya terus naik, kadang hasil panen tidak sebanding dengan pengeluaran,” keluh petani tersebut.
Badan Pangan Nasional menegaskan bahwa HPP Rp6.500/kg berlaku bagi gabah dengan kadar air maksimal 25 persen dan kadar hampa maksimal 10 persen. Perum Bulog pun diwajibkan menyerap gabah petani sesuai ketentuan ini demi menjaga stabilitas pasokan dan harga beras.
Bagi petani Merbo Lama, setiap ikat padi yang dipikul dari sawah menjadi simbol keteguhan dalam menjaga pangan lokal. Meski harus bertahan dengan cara tradisional, mereka tetap berharap adanya harga gabah yang lebih adil serta dukungan pemerintah yang nyata di masa depan.(*)