Ribuan Hektare Sawah Terlantar di Baktiya, Pemulihan Pascabanjir Dinilai Belum Tuntas
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Delapan bulan setelah banjir melanda Kabupaten Aceh Utara, ribuan hektare sawah di Kecamatan Baktiya belum dapat digarap akibat jaringan irigasi yang rusak dan belum dipulihkan. Kondisi itu membuat musim tanam kembali terancam serta memperpanjang beban ekonomi para petani yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Keluhan tersebut disampaikan warga kepada Anggota DPRK Aceh Utara, Zulkifli, yang dikenal dengan sapaan Joel Panton. Menurut warga, kerusakan saluran irigasi sejak banjir hingga kini belum mendapat penanganan yang memadai sehingga air belum dapat mengaliri areal persawahan.
Bagi petani, persoalan ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur. Terhentinya pasokan air berarti tertundanya masa tanam, hilangnya potensi panen, serta berkurangnya sumber penghasilan keluarga. Di tengah upaya pemerintah mendorong ketahanan pangan, mereka justru masih dihadapkan pada kebutuhan paling mendasar, yakni ketersediaan air irigasi.
Joel Panton meminta pemerintah bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) segera memprioritaskan rehabilitasi jaringan irigasi di kawasan terdampak. Menurutnya, percepatan perbaikan menjadi langkah penting agar petani dapat kembali mengolah sawah dan memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Selain persoalan irigasi, sebagian warga juga mengaku belum menerima bantuan pangan maupun jaminan hidup (jadup) yang diharapkan dapat meringankan beban pascabanjir. Pengakuan tersebut menambah daftar persoalan yang dinilai perlu segera ditindaklanjuti oleh pemerintah.
Lambatnya pemulihan pascabencana berpotensi memperbesar dampak sosial dan ekonomi di tingkat masyarakat. Setiap musim tanam yang terlewat bukan hanya berarti berkurangnya produksi pertanian, tetapi juga hilangnya pendapatan bagi ribuan keluarga petani.
Bagi warga Baktiya, banjir mungkin telah lama surut. Namun, selama irigasi belum kembali berfungsi dan proses pemulihan belum dirasakan secara nyata, dampak bencana masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Yang mereka harapkan saat ini bukan sekadar komitmen, melainkan langkah konkret agar sawah kembali dialiri air dan aktivitas pertanian dapat berjalan sebagaimana mestinya.***


