BERITA TERKINI

Ketika Pemimpin Kandas di Tangan Pembisik Berhati Iblis

Ketika Pemimpin Kandas di Tangan Pembisik Berhati Iblis

PASESATU.COM
- Seorang pemimpin jarang jatuh karena rakyatnya. Lebih sering ia tumbang oleh orang-orang yang berdiri paling dekat dengannya.

Mereka tidak membawa senjata. Mereka datang dengan senyum, pujian, dan kalimat yang terdengar seperti kesetiaan. Mereka menyebut diri sebagai orang kepercayaan, penasihat, atau tangan kanan. Padahal, di balik bisikan yang terdengar lembut itu, tersimpan hasrat yang kasar: mempertahankan pengaruh, menguasai akses kekuasaan, dan mengamankan kepentingan pribadi.

Di ruang-ruang tertutup, tempat kebijakan dirumuskan, suara rakyat perlahan kehilangan tempat. Yang lebih nyaring justru suara para pembisik. Mereka menentukan siapa yang layak didengar dan siapa yang harus disingkirkan. Mereka menyaring informasi, memoles fakta, bahkan mengemas kebohongan agar terdengar seperti kebenaran.

Bagi mereka, kepentingan publik hanyalah slogan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan lingkaran kekuasaan tetap berada dalam genggaman mereka.

Maka lahirlah kebijakan yang terasa asing bagi rakyat. Keputusan yang sulit dipahami akal sehat. Program yang lebih menguntungkan kelompok tertentu daripada masyarakat luas. Bukan karena pemimpin selalu kehilangan nurani, melainkan karena nurani itu telah lama dikalahkan oleh bisikan yang dipenuhi kepentingan.

Pembisik semacam ini tidak pernah menginginkan pemimpin dekat dengan rakyat. Sebab, semakin dekat pemimpin dengan masyarakat, semakin kecil ruang bagi mereka memainkan pengaruh. Mereka lebih senang membangun tembok yang tinggi antara pemimpin dan rakyat. Kritik disebut fitnah. Masukan dianggap ancaman. Orang-orang yang jujur dicap sebagai lawan.

Akhirnya, pemimpin hidup dalam dunia yang diciptakan oleh para pembisiknya sendiri sebuah dunia yang penuh pujian, tetapi miskin kenyataan.

Ironisnya, ketika rakyat mulai marah, para pembisik itu tidak pernah berdiri di barisan paling depan. Mereka pandai menyelamatkan diri. Mereka membiarkan pemimpin menanggung seluruh kemarahan publik. Ketika kepercayaan runtuh, mereka diam. Ketika legitimasi melemah, mereka mencari perlindungan. Bahkan tidak sedikit yang bersiap berpindah ke pusat kekuasaan berikutnya.

Begitulah watak para pembisik berkepentingan. Kesetiaan mereka bukan kepada pemimpin, apalagi kepada rakyat. Kesetiaan mereka hanya kepada keuntungan. Hari ini mereka memuji, besok mereka meninggalkan. Hari ini mereka membela, esok mereka menjadi orang pertama yang menyalahkan.

Seorang pemimpin yang gagal mengenali watak seperti ini sesungguhnya sedang berjalan menuju jurang. Bukan karena ia tidak memiliki kekuasaan, tetapi karena kekuasaannya telah dikendalikan oleh orang-orang yang menjadikan jabatan sebagai alat transaksi kepentingan.

Rakyat tidak pernah menuntut pemimpin menjadi manusia tanpa cela. Mereka hanya berharap satu hal: jangan biarkan keputusan negara ditentukan oleh mereka yang menjadikan kekuasaan sebagai jalan memperkaya pengaruh, mengamankan posisi, atau membalas kepentingan.

Sebab, kehancuran sebuah kepemimpinan sering kali tidak dimulai dari demonstrasi di jalanan. Ia dimulai dari satu bisikan di ruang yang sunyi. Bisikan yang terdengar setia, tetapi sesungguhnya mengandung racun.

Dan ketika seorang pemimpin lebih mempercayai bisikan itu daripada jeritan rakyat, saat itulah harapan mulai kandas. Bukan di tangan lawan politik. Bukan pula oleh kritik masyarakat. Melainkan di tangan para pembisik berhati iblis yang menjadikan kekuasaan sebagai alat memenuhi kepentingan pribadi, sementara rakyat hanya dijadikan penonton dari keputusan yang tidak lagi berpihak kepada mereka.***

Penulis : Syahrul Usman