SPPG Banyak Tutup, Tapi yang "Kelaparan" Bukan Anak Sekolah
Font Terkecil
Font Terbesar
Abdul Rafar
Jurnalis PASESATU
PASESATU.COM – Penutupan sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Ironisnya, yang paling ribut bukan anak-anak sekolah yang selama ini menjadi sasaran program makan bergizi, melainkan para pihak yang selama ini menikmati aliran anggaran dari program tersebut.
Di lapangan, tidak terlihat antrean panjang anak-anak yang kehilangan makan siang. Tidak terdengar jeritan siswa yang tidak bisa belajar karena kelaparan. Yang ramai justru keluhan dari mereka yang merasa kehilangan proyek, kontrak, dan keuntungan ekonomi yang selama ini berputar di sekitar program itu.
Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Sebab sejak awal, tujuan utama program adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung tumbuh kembang dan prestasi belajar mereka. Ketika dapur-dapur berhenti beroperasi, fokus seharusnya tertuju pada nasib peserta didik, bukan pada siapa yang kehilangan sumber pendapatan.
Publik berhak bertanya, apakah program ini benar-benar dibangun untuk kepentingan anak-anak, atau justru telah berubah menjadi ladang kepentingan yang membuat sebagian orang lebih sibuk menghitung kerugian finansial daripada memikirkan kebutuhan gizi siswa?
Anak-anak sekolah tidak membutuhkan polemik. Mereka membutuhkan makanan yang layak, sehat, dan berkelanjutan. Mereka tidak peduli siapa pengelola dapurnya, siapa pemasoknya, atau siapa yang mendapatkan keuntungan. Yang mereka tahu, mereka berhak mendapatkan perhatian negara.
Penutupan SPPG harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Pemerintah perlu memastikan program berjalan transparan, tepat sasaran, dan tidak tersandera oleh kepentingan kelompok tertentu. Sebab ketika sebuah program sosial lebih banyak diperdebatkan karena uang daripada manfaatnya, ada yang keliru dalam cara kita memandang kesejahteraan rakyat.
Pada akhirnya, yang harus dipastikan tidak "kelaparan" adalah anak-anak Indonesia. Jangan sampai suara mereka tenggelam oleh hiruk-pikuk mereka yang kehilangan kesempatan menikmati kue anggaran.
Karena masa depan bangsa tidak sedang dibangun di atas proyek, melainkan di atas piring-piring makan anak-anak yang harus tetap terisi setiap hari.***



