Dana Operasional Tersendat, Sejumlah SPPG di Aceh Terancam Hentikan Layanan MBG
![]() |
| Foto Ilustrasi |
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Aceh dilaporkan menghadapi kendala operasional akibat tersendatnya pencairan dana operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kelangsungan penyediaan makanan bergizi bagi ribuan siswa yang menjadi penerima manfaat program nasional tersebut.
Salah satu SPPG yang terdampak adalah SPPG Simpang Tiga Langkahan di Kabupaten Aceh Utara yang dikabarkan menghentikan sementara layanan MBG. Terhambatnya pencairan dana menyebabkan pengelola kesulitan memenuhi kebutuhan operasional, mulai dari pengadaan bahan pangan, pembayaran tenaga kerja, hingga biaya distribusi makanan ke sekolah-sekolah penerima manfaat.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat karena Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak usia sekolah.
Di tingkat nasional, Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan Program MBG tetap berjalan dan ribuan SPPG masih beroperasi di berbagai daerah di Indonesia. Namun, sejumlah kendala administratif dan pendanaan yang terjadi di beberapa wilayah disebut turut memengaruhi kelancaran layanan di lapangan.
Selain berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan gizi siswa, terhambatnya operasional SPPG juga berdampak pada perekonomian lokal. Selama program berlangsung, kebutuhan bahan baku makanan dipasok oleh petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Ketika aktivitas dapur MBG terhenti, rantai ekonomi yang selama ini bergerak melalui program tersebut ikut melambat.
Sejumlah orang tua siswa berharap pemerintah pusat dan pihak terkait segera memberikan kepastian mengenai proses pencairan dana operasional agar layanan MBG dapat kembali berjalan normal.
"Jangan sampai program yang membawa harapan besar ini terhambat karena persoalan administrasi. Anak-anak tidak boleh menjadi korban keterlambatan birokrasi," ujar salah seorang warga yang anaknya menjadi penerima manfaat Program MBG.
Masyarakat juga meminta adanya transparansi terkait penyebab keterlambatan pencairan dana, jadwal penyaluran, serta langkah penanganan bagi SPPG yang terdampak. Kepastian tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan program sekaligus mempertahankan kepercayaan publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis.
Program MBG tidak hanya dipandang sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pangan siswa, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan sumber daya manusia Indonesia. Karena itu, berbagai pihak berharap kendala pendanaan yang terjadi dapat segera diselesaikan agar manfaat program tetap dirasakan oleh para penerima di daerah.***



