Solidaritas Warga Buket Sentang, Irigasi yang Tertimbun Longsor Diperbaiki Secara Swadaya
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Kekompakan warga Gampong Buket Sentang, Kecamatan Lhoksukon, patut diapresiasi. Mereka secara bergotong royong memperbaiki saluran irigasi yang tertimbun longsor demi menyelamatkan lahan pertanian yang terancam kekeringan.
Perbaikan dilakukan secara mandiri setelah saluran air utama yang menjadi tumpuan empat gampong di Kemukiman MU yakni Buket Sentang, Blang Aman, Cot U Sibak, dan Meunasah Reudeup tidak lagi berfungsi optimal. Total sekitar 500 hektare lahan pertanian bergantung pada aliran irigasi tersebut, dengan areal terluas berada di Gampong Blang Aman.
Longsor yang terjadi akibat intensitas hujan tinggi pada November 2025 lalu menyebabkan aliran air terhenti. Dampaknya mulai dirasakan petani, terutama saat memasuki masa panen.
Geuchik Buket Sentang, Imran, mengatakan, warga sempat mencari alternatif dengan mengalirkan air dari parit di kawasan kebun sawit. Namun, upaya itu tidak mampu memenuhi kebutuhan air bagi sawah. “Debit air tidak mencukupi, sehingga banyak padi tidak berisi. Petani mengalami kerugian,” ujarnya.
Kondisi tersebut cukup berdampak, mengingat sebagian besar warga—sekitar 70 kepala keluarga menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan. Selain padi, tanaman hortikultura seperti cabai, kacang panjang, hingga semangka juga terancam gagal panen akibat kekurangan air.
Untuk mengatasi persoalan itu, warga melakukan normalisasi saluran irigasi di tiga titik dengan total panjang sekitar 150 meter. Sejumlah langkah teknis turut dilakukan, seperti pemasangan 15 unit gorong-gorong di sisi kiri saluran, serta rencana penambahan 10 unit di sisi kanan.
Imran juga mengungkapkan adanya kontribusi dari salah satu warga, Jamaluddin, yang mengikhlaskan sebagian lahannya untuk mendukung perbaikan jalur air. Lahan perbukitan miliknya diratakan agar aliran air dapat ditata ulang dan lebih aman dari potensi longsor susulan.
Jamaluddin mengaku keputusan tersebut diambil berdasarkan pengalaman sebelumnya, ketika sebagian lahan produktif miliknya yang ditanami duku, pisang, dan durian terdampak longsor. “Saya ingin jalur air ini lebih aman ke depan, supaya tidak terulang lagi,” katanya.
Di tengah upaya pemulihan irigasi, warga juga menghadapi persoalan lain, yakni keterbatasan akses air bersih. Hingga kini, desa tersebut belum terjangkau layanan PDAM. Untuk kebutuhan sehari-hari, warga mengandalkan sumur bor dan sumur galian, sementara air minum harus dibeli dari depot isi ulang.
Warga berharap, perbaikan irigasi yang dilakukan secara swadaya ini dapat mengembalikan produktivitas pertanian serta memulihkan perekonomian masyarakat setempat.***
