Di Huntara, Nurasiah Bertahan Hidup dari Membelah Pinang Rp1.000 per Kilogram
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Di tengah kerasnya hidup pasca musibah, Nurasiah Yahya, warga Dusun Teungoh, Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, masih terus berjuang menyambung hidup dari pekerjaan serabutan yang jauh dari kata layak.
Perempuan paruh baya yang menjadi salah satu warga terdampak itu kini menetap di Hunian Sementara (Huntara) bersama keluarganya.
Di tempat yang seharusnya menjadi ruang perlindungan sementara, Nurasiah justru harus menghadapi kenyataan hidup yang semakin berat: bertahan tanpa kepastian bantuan, sambil mencari nafkah dengan membelah pinang.
Berdasarkan amatan media, Selasa (7/4/2026), Nurasiah terlihat tekun membelah pinang di sekitar lingkungan Huntara.
Dari pekerjaan yang menguras tenaga itu, ia hanya memperoleh upah sekitar Rp1.000 per kilogram nilai yang sangat kecil jika dibandingkan dengan beratnya beban hidup yang harus ia tanggung setiap hari.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin nyaris tak berarti. Namun bagi Nurasiah, seribu rupiah per kilogram adalah cara terakhir untuk tetap menyalakan dapur, meski hasilnya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Yang lebih memilukan, selama tinggal di Huntara, Nurasiah mengaku belum menerima bantuan dalam bentuk apa pun.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit, ia dan keluarganya harus bertahan dengan kemampuan sendiri, tanpa kepastian penyangga hidup yang semestinya hadir untuk warga terdampak.
Kisah Nurasiah menjadi cermin nyata bahwa musibah tidak berhenti saat api padam atau saat warga dipindahkan ke tempat penampungan. Bagi korban, musibah justru sering berlanjut dalam bentuk lain: kesulitan ekonomi, ketidakpastian hidup, dan minimnya perhatian nyata setelah sorotan mereda.
Hidup di Huntara bukan hanya soal tinggal di tempat sementara. Bagi warga seperti Nurasiah, Huntara adalah ruang sempit tempat mereka dipaksa belajar bertahan, meski bantuan yang diharapkan belum juga datang.
Perjuangan Nurasiah membelah pinang dengan upah minim menjadi potret sunyi derita rakyat kecil mereka yang tidak meminta hidup mewah, hanya ingin bisa makan, bertahan, dan melewati hari tanpa dihantui kekurangan.
Di balik tangan yang lelah dan penghasilan yang nyaris tak cukup, ada semangat hidup yang tetap menyala. Namun ketabahan warga seperti Nurasiah seharusnya tidak terus-menerus diuji oleh lambannya kepedulian.
Sebab bagi korban musibah, bertahan hidup tidak bisa disandarkan hanya pada kesabaran. Mereka juga butuh kehadiran nyata, bantuan nyata, dan perhatian yang nyata.***
