BERITA TERKINI

Air Mata di Bawah Terpal: Hari Kartini dalam Sunyi Nek Halimah di Aceh Utara


ACEH UTARA | PASESATU.COM 
— Di saat sebagian masyarakat memperingati Hari Kartini dengan semangat emansipasi dan kemajuan perempuan, suasana berbeda justru menyelimuti Dusun Pante Ara, Gampong Tanjung Dalam, Kecamatan Langkahan, Selasa (21/4/2026).

Di bawah terpal tipis yang mulai rapuh, Nek Halimah, seorang perempuan lanjut usia, menjalani hari-harinya dalam keterbatasan. Bagi dirinya, Hari Kartini tahun ini bukan tentang perayaan, melainkan hari yang kembali dilalui dalam gelap, lapar, dan ketidakpastian.

Nek Halimah telah lama kehilangan penglihatannya. Namun, bukan hanya kegelapan yang menjadi ujian hidupnya, melainkan juga kenyataan bahwa harapan yang sempat muncul seolah ikut hanyut bersama banjir yang merusak tempat tinggalnya.

Dahulu, ia masih memiliki rumah sederhana sebagai tempat berteduh. Kini, yang tersisa hanyalah sebuah tenda darurat dengan lantai dingin. Di malam hari, suara hujan yang menembus celah terpal menjadi teman sunyi yang tak pernah absen.

Di sampingnya, Ibrahim (30), putra satu-satunya, turut hidup dalam kondisi rentan. Ia disebut mengalami gangguan kejiwaan dan pernah menjalani perawatan di RSUD Cut Meutia. Setelah keluar dari rumah sakit, Ibrahim kembali menjalani kehidupan yang sama: tinggal di tenda bersama ibunya tanpa kepastian mengenai masa depan.

Dua jiwa yang sama-sama rapuh itu kini saling bergantung dalam keadaan yang jauh dari kata layak.


“Beliau tidak bisa melihat, tetapi harus menjaga anaknya yang sakit. Untuk makan saja, hanya berharap belas kasihan,” ujar Abdullah, Wakil Ketua Tuha Peut setempat.

Menurut Abdullah, sejumlah bantuan yang pernah dijanjikan kepada keluarga tersebut hingga kini belum terealisasi. Bantuan berupa biaya hidup, uang tunai, maupun perabot rumah tangga disebut belum pernah benar-benar diterima.

Sejak Ramadan berlalu, bantuan dari berbagai pihak juga disebut semakin jarang datang.

Nek Halimah sebelumnya sempat ditawari untuk pindah ke hunian sementara di Bukit Sentang. Namun, kondisi fisiknya yang lemah serta keterbatasan penglihatan membuatnya kesulitan menempuh perjalanan ke lokasi tersebut. Ia memilih bertahan, bukan karena sanggup, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain.

Di dalam tenda, sakit menjadi bagian dari keseharian. Akses terhadap layanan kesehatan pun sulit dijangkau. Jarak menuju Lhokseumawe yang cukup jauh, ditambah keterbatasan biaya, menjadi hambatan utama untuk mendapatkan pengobatan.

Setiap malam ketika hujan turun, air menetes dari atap terpal. Dingin merambat perlahan ke seluruh ruang tenda. Dalam kondisi itu, Nek Halimah hanya bisa meraba lantai, memeluk harapan yang kian menipis.

Ia tidak pernah meminta lebih. Bukan rumah mewah, bukan pula kehidupan berlimpah. Ia hanya berharap dapat hidup dengan layak, serta janji bantuan yang pernah disampaikan dapat diwujudkan.

Di Hari Kartini, ketika banyak orang berbicara tentang kekuatan perempuan, sosok Nek Halimah menghadirkan makna keteguhan yang paling nyata: bertahan dalam keterbatasan, merawat anaknya di tengah derita, dan tetap menyimpan doa meski harapan nyaris sirna.

Dalam sunyi, ia hanya berharap esok membawa sedikit cahaya bukan untuk matanya, tetapi untuk kehidupannya yang perlahan seakan terlupakan.***


Penulis : Abdul Rafar