Aceh di Persimpangan Pemulihan
PASESATU.COM - Berdasarkan Laporan Harian Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana per 25 Maret 2026, pemerintah mencatat kemajuan signifikan dalam pemulihan di Aceh. Namun, laporan lapangan menunjukkan kenyataan yang lebih berlapis bahkan bertolak belakang.
Angka yang Menenangkan, Realitas yang Mengganjal
Sebanyak 10.370 unit hunian sementara (huntara) masih dihuni di seluruh Aceh. Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi.
Di sisi lain, bantuan jaminan hidup telah menjangkau 93.234 jiwa. Fasilitas kesehatan diklaim pulih 100 persen. Listrik pun telah menyala sepenuhnya di seluruh wilayah.
Sekilas, ini adalah narasi keberhasilan.
Namun, seperti lazimnya dalam setiap fase rehabilitasi, angka-angka itu menyembunyikan detail yang tak selalu nyaman.
Distribusi bantuan masih timpang. Sekolah-sekolah masih bertahan dengan tenda dan ruang darurat. Infrastruktur air bersih belum sepenuhnya rampung. Dan yang paling krusial kehidupan para penyintas belum benar-benar pulih.
Bertahan di Huntara, Beban Justru Bertambah
Di tengah klaim pemulihan itu, suara dari lapangan justru menghadirkan ironi.
Seperti dilaporkan AJNN.net - Aceh Journal National Network, para penyintas banjir di Aceh Utara yang tinggal di huntara justru harus menanggung biaya listrik secara mandiri sesuatu yang sebelumnya dijanjikan akan digratiskan.
Di Gampong Paloh Raya, Kecamatan Muara Batu, sebanyak 137 jiwa dari 38 kepala keluarga masih bertahan di hunian sementara. Mereka datang dengan harapan sederhana: tempat tinggal sementara yang layak, dengan fasilitas dasar yang dijamin pemerintah.
Namun harapan itu perlahan memudar.
“Token listrik harus kami bayar sendiri. Bahkan Rp 100 ribu hanya bertahan sekitar sepekan. Sama sekali tidak ada subsidi,” kata Yuni, salah seorang penghuni, seperti dikutip dari AJNN, 23 Maret 2026.
Janji penyediaan listrik dan WiFi gratis selama enam bulan tak kunjung terealisasi. Sejak menempati huntara, seluruh kebutuhan listrik justru dibebankan kepada warga.
Situasi ini menjadi beban berlapis. Di satu sisi, mereka kehilangan tempat tinggal. Di sisi lain, sumber penghasilan pun belum pulih.
“Kami masih kehilangan penghasilan. Sawah kami tertimbun lumpur dan belum bisa digarap,” ujar Yuni.
Ketika Data Tak Menangkap Beban Nyata
Apa yang terjadi di Aceh Utara menjadi potret kecil dari celah besar dalam proses pemulihan.
Dalam laporan resmi, listrik telah pulih 100 persen. Namun di huntara, akses listrik justru menjadi beban ekonomi baru.
Dalam data, bantuan terus mengalir. Namun di lapangan, warga masih harus memilih antara membeli listrik atau memenuhi kebutuhan lain.
Di atas kertas, pemulihan berjalan. Di bawah atap seng huntara, perjuangan justru dimulai.
Pemulihan yang Belum Selesai
Aceh hari ini bukan lagi dalam fase tanggap darurat. Tapi juga belum sepenuhnya pulih.
Ia berada di ruang antara di mana laporan menunjukkan progres, tetapi kenyataan masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.
Kasus di Aceh Utara mengingatkan satu hal penting: pemulihan tidak hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memastikan janji-janji kepada penyintas benar-benar ditepati.
Sebab bagi mereka yang masih bertahan di huntara, pemulihan bukan angka. Ia adalah soal bertahan hidup hari demi hari.
