Jembatan Perbatasan Aceh Timur–Aceh Utara Rusak Parah, Jalur Nasional Berubah Seperti “Kubangan Besi”
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Kondisi jembatan penghubung Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Utara di jalur nasional Banda Aceh–Medan menuai sorotan tajam. Infrastruktur vital yang setiap hari dilintasi ribuan kendaraan itu kini terlihat memprihatinkan, sementara penanganan dari pihak berwenang dinilai belum terlihat signifikan.
Jembatan rangka baja yang menjadi batas dua kabupaten tersebut tampak seperti “dibiarkan menua sendiri”. Permukaan aspal di atas jembatan terlihat rusak, mengelupas, dan berlubang di sejumlah titik. Kondisi itu membentuk permukaan yang tidak rata, licin saat hujan, dan berpotensi membahayakan pengendara yang melintas.
Ironisnya, jembatan ini bukan berada di jalan desa dengan lalu lintas rendah. Jalur Banda Aceh–Medan merupakan salah satu urat nadi transportasi terpenting di Provinsi Aceh. Setiap hari, kendaraan bertonase besar seperti truk pengangkut kelapa sawit, sembako, hingga logistik industri, serta mobil penumpang umum antar-kota antar-provinsi (AKAP), melintas tanpa henti di atas jembatan tersebut.
Namun di tengah tingginya intensitas kendaraan berat, kondisi permukaan jalan di atas jembatan justru tampak seperti tambalan darurat yang terus menunggu kerusakan berikutnya.
Warga setempat menilai kerusakan ini bukan lagi persoalan kecil, melainkan indikasi lemahnya pengawasan terhadap infrastruktur jalan nasional.
“Jembatan ini sudah lama rusak. Setiap hari truk besar lewat, tapi belum juga ada perbaikan yang benar-benar tuntas. Kami khawatir suatu saat terjadi kecelakaan,” kata Ismail, warga Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, Sabtu (14/3/2026).
Selain kerusakan permukaan, lebar jembatan yang relatif sempit semakin memperparah situasi. Ketika kendaraan besar berhenti atau melambat, pengendara sepeda motor sering kali harus mencari celah di sisi sempit jembatan untuk melintas. Kondisi tersebut kerap memicu kemacetan dan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Yang menjadi sorotan, jembatan tersebut berada di jalur nasional yang berada di bawah kewenangan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh. Artinya, kerusakan yang terlihat jelas oleh masyarakat seharusnya juga dapat terpantau oleh pihak berwenang.
Situasi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah perbaikan baru akan dilakukan setelah terjadi insiden yang menelan korban?
Warga di wilayah perbatasan Aceh Timur dan Aceh Utara kini mendesak pemerintah daerah bersama BPJN Aceh untuk segera mengambil langkah konkret. Penanganan yang diminta tidak hanya sebatas tambalan sementara, tetapi perbaikan menyeluruh, mulai dari perbaikan lapisan aspal, pembersihan serta perawatan expansion joint, hingga evaluasi kondisi struktur jembatan secara komprehensif.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya kenyamanan pengguna jalan yang terancam, tetapi juga keselamatan ribuan pengendara yang setiap hari melintasi jalur utama penghubung Aceh dengan Sumatera Utara.
Jembatan perbatasan Madat–Tanah Jambo Aye bukan sekadar penghubung dua kecamatan. Ia merupakan bagian dari denyut nadi ekonomi Aceh. Namun dari kondisi yang terlihat saat ini, jembatan tersebut justru memunculkan kesan sebagai infrastruktur strategis yang luput dari perhatian.(*)
