Di Tengah Luka Banjir, SDN 10 Tanah Jambo Aye Tetap Menyalakan Harapan
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Sekolah ini mungkin tak seramai sekolah-sekolah di kota. Tak ada deretan seragam yang rapi dan serba sama. Yang terlihat justru seragam campur sari sebagian lusuh, sebagian tak lengkap, namun tetap dikenakan dengan bangga demi satu tujuan: tetap sekolah, tetap belajar, dan tetap bermimpi.
Pemandangan itu terlihat di SDN 10 Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, sebuah sekolah yang hingga kini masih berjuang bangkit pasca diterjang banjir. Luka bencana itu belum benar-benar hilang. Jejaknya masih tampak jelas di berbagai sudut sekolah, seolah menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya musibah yang pernah datang menerjang.
Di ruang-ruang kelas, kondisi belum sepenuhnya pulih. Mobiler sekolah masih tampak acak-acakan. Meja, kursi, dan perlengkapan belajar belum seluruhnya kembali seperti semula. Namun yang paling menggetarkan bukanlah apa yang rusak, melainkan apa yang tetap bertahan: semangat belajar yang tidak ikut hanyut bersama air bah.
Anak-anak tetap datang ke sekolah dengan wajah polos dan harapan sederhana. Mereka mungkin tak membawa perlengkapan terbaik, tak mengenakan seragam paling rapi, namun mereka datang dengan sesuatu yang jauh lebih besar keinginan untuk terus belajar meski keadaan belum benar-benar berpihak.
Di balik semangat anak-anak itu, berdirilah para guru yang terus bertahan dalam sunyi perjuangan. Mereka tetap mengajar, meski luka akibat banjir belum sepenuhnya sembuh. Sebab bencana itu bukan hanya merusak bangunan sekolah, tetapi juga menyentuh rumah, keluarga, dan kehidupan pribadi mereka sendiri.
Senyum yang mereka berikan kepada murid-muridnya kadang menjadi satu-satunya cara untuk menutupi duka yang masih tertinggal. Di hadapan anak-anak didik mereka, para guru memilih tetap tegar. Mereka mengubah kepedihan menjadi ketabahan, dan menjadikan ruang kelas yang sederhana sebagai tempat untuk terus menyalakan masa depan.
Di sekolah ini, keterbatasan tidak dijadikan alasan untuk menyerah. Proses belajar mengajar tetap berjalan, seolah menjadi perlawanan diam terhadap musibah. Meski belum pulih sepenuhnya, SDN 10 Tanah Jambo Aye menolak kalah dari keadaan.
Sekolah ini mungkin belum memiliki ruang yang sempurna, mobiler yang tertata rapi, atau fasilitas yang memadai. Namun sekolah ini masih memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: jiwa-jiwa yang tak mau menyerah.
Di balik seragam yang tak seragam, di balik ruang kelas yang belum rapi, dan di balik wajah-wajah yang masih menyimpan trauma, ada satu hal yang tetap utuh tekad untuk bangkit dan keyakinan bahwa pendidikan harus terus hidup, meski banjir sempat mencoba meruntuhkannya.***


