Haji Uma Raih Gelar Magister Ilmu Politik di Universitas Nasional
Penulis :Redaksi | Editor : Syahrul
JAKARTA | PASESATU.COM – Anggota DPD RI asal Aceh, Haji Uma, resmi meraih gelar Magister Ilmu Politik di Universitas Nasional (UNAS) setelah mempertahankan tesisnya dalam sidang yang berlangsung di Menara UNAS, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Dalam tesis berjudul “Hegemoni Politik Partai Aceh dalam Proses Pencalonan Tunggal pada Pilkada Kabupaten Aceh Utara Tahun 2024”, Sudirman mengkaji dominasi Partai Aceh dan pengaruhnya terhadap munculnya calon tunggal pada Pilkada Aceh Utara 2024.
Ketua sidang, Dr. M. Alfan Alfian, menyampaikan penelitian tersebut relevan dengan dinamika demokrasi lokal di Aceh. Tim penguji turut menyoroti penggunaan teori hegemoni dari Antonio Gramsci sebagai pisau analisis dalam membedah relasi kuasa antara elite partai dan aktor politik lokal.
Dalam pemaparannya, Haji Uma menjelaskan bahwa hegemoni politik tidak semata dibangun melalui kekuatan struktural, tetapi juga melalui konsensus politik, jaringan elite, serta legitimasi sosial di tengah masyarakat.
“Hegemoni tidak selalu hadir dalam bentuk tekanan terbuka, tetapi bisa tumbuh melalui kesepahaman yang dibangun secara sistematis di ruang-ruang politik,” ujarnya di hadapan tim penguji dan peserta sidang.
Ia menyimpulkan, dominasi politik yang kuat berpotensi memengaruhi kualitas kompetisi demokrasi, terutama ketika kontestasi hanya diikuti calon tunggal yang berhadapan dengan kotak kosong.
“Fenomena calon tunggal perlu dikaji secara akademik agar demokrasi tetap berjalan sehat dan memberi ruang partisipasi yang setara bagi seluruh elemen masyarakat,” kata Haji Uma.
Sidang tesis tersebut turut dihadiri dosen pembimbing dan penguji, yakni Prof. Ganjar Razuni, Dr. T.B. Massa Djafar, serta Dr. Sahruddin selaku pembimbing. Setelah melalui sesi tanya jawab dan revisi minor, Haji Uma dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Ia berharap penelitiannya dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kajian politik lokal dan demokrasi di Aceh. “Sebagai pelaku politik, saya meyakini politik tanpa hati adalah kejam, dan politik tanpa pengetahuan dapat menjadi bentuk penindasan. Karena itu, pendidikan menjadi bagian penting dalam pengabdian,” demikian Haji Uma.(*)
