Dua Bulan Pascabanjir, Ratusan Warga Rumoh Rayeuk Masih Bertahan di Tenda Pengungsian
Pantauan di lokasi, Kamis (22/1/2026), kondisi pengungsian masih jauh dari kata layak. Warga harus menghadapi panas terik pada siang hari dan dinginnya malam di dalam tenda. Anak-anak tumbuh dalam keterbatasan, tidur berdesakan, makan seadanya, serta menjalani hari-hari tanpa ruang yang memadai untuk belajar dan bermain.
Salah seorang warga korban banjir, Wani Safrianti, mengungkapkan bahwa hingga kini mereka masih bergantung sepenuhnya pada tenda pengungsian. Meski bersyukur kondisi kesehatan anak-anaknya relatif baik, ia mengakui situasi tersebut sangat tidak nyaman, terutama bagi anak-anak.
“Sudah hampir dua bulan kami tinggal di tenda pengungsian. Anak-anak alhamdulillah sehat, cuma kepanasan. Kami bertahan seperti ini setiap hari,” ujar Wani.
Ia menjelaskan, banjir tidak hanya merendam permukiman, tetapi menghancurkan seluruh kehidupan warga. Arus deras membawa kayu-kayu besar dari kawasan pegunungan yang menghantam dan menimpa rumah-rumah warga hingga rata dengan tanah.
“Rumah kami sudah tidak ada lagi. Sudah dibawa banjir. Kayu-kayu dari gunung itu menimpa rumah kami. Habis semua,” katanya dengan suara bergetar.
Di tengah keterbatasan tersebut, harapan warga kini tertuju pada perhatian pemerintah pusat. Mereka berharap Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dapat datang langsung ke lokasi untuk melihat kondisi yang mereka alami pascabencana.
“Kami berharap Bapak Presiden bisa datang ke tempat kami. Bapak bisa lihat langsung rumah kami yang sudah hilang. Kami ingin Bapak lihat sendiri kondisi kami,” ujar Wani.
Bagi warga Rumoh Rayeuk, kunjungan pemerintah bukan sekadar simbolis. Mereka berharap kehadiran negara dapat menghadirkan solusi nyata, mulai dari penyediaan hunian layak hingga pemulihan kehidupan pascabencana.
Hingga kini, ratusan keluarga masih bertahan di pengungsian dengan fasilitas terbatas. Di balik tenda-tenda darurat, mereka menyimpan harapan sederhana: dapat kembali memiliki rumah dan menjalani kehidupan yang layak.
“Kami tidak minta banyak, kami hanya ingin punya rumah lagi,” tutur Wani, mewakili suara ratusan warga yang masih menanti kepastian.(*)

