Dua Bulan Pascabanjir Bandang, Warga Buket Linteung Masih Bertahan di Pengungsian Mandiri
![]() |
| Abdul Rafar Wartawan pasesatu.com saat berbincang dengan warga Buket Linteung Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara, Minggu (25/01/2026). Foto : Syahrul. |
Di Dusun Tengah, tercatat sebanyak tujuh kepala keluarga mengungsi di satu titik pengungsian. Selain itu, masih terdapat warga lain yang tersebar di beberapa titik pengungsian berbeda di wilayah sekitar gampong tersebut. Para pengungsi membangun tempat tinggal sementara menggunakan terpal dan seng bekas dari sisa-sisa rumah yang rusak akibat banjir bandang.
Keterbatasan kebutuhan dasar masih menjadi persoalan utama. Warga sangat membutuhkan tenda serta akses air bersih. Untuk keperluan sehari-hari, sebagian pengungsi terpaksa menggunakan air parit, sementara untuk memasak mereka harus membeli air galon secara mandiri.
“Sudah dua bulan kami tinggal di pengungsian seperti ini. Sampai sekarang belum ada kepastian,” ujar Suryani, salah seorang warga Buket Linteung yang juga menjadi korban banjir bandang, kepada pasesatu.com Minggu (25/01/2026).
Suryani menuturkan, saat banjir terjadi, warga sempat mengungsi ke meunasah. Namun derasnya air membuat meunasah ikut terendam sehingga mereka terpaksa menyelamatkan diri ke kawasan perbukitan. Hingga kini, lokasi tersebut masih menjadi tempat pengungsian warga.
“Air datang sangat cepat. Meunasah tenggelam, kami lari ke atas bukit. Sampai sekarang masih di camp pengungsian,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah daerah saat ini tengah mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di beberapa titik di dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara sebagai bagian dari penanganan pascabencana. Huntara tersebut diharapkan dapat menjadi solusi sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, sebagian warga Buket Linteung masih menunggu kepastian untuk dapat menempati hunian yang lebih layak. Para pengungsi berharap adanya perhatian berkelanjutan, terutama terkait pemenuhan kebutuhan air bersih dan fasilitas dasar lainnya, agar mereka dapat bertahan dengan kondisi yang lebih kayak. (*)

