Kelangkaan Cabai Rawit Ganggu Usaha Kuliner di Panton Labu
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Kelangkaan cabai rawit yang terjadi dalam beberapa hari terakhir mulai dirasakan dampaknya oleh para pedagang mi di Kota Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara. Bahan pangan tersebut merupakan salah satu komponen utama yang menentukan cita rasa menu mi pedas, favorit sebagian besar pelanggan.
Sejumlah pedagang mengaku kesulitan memperoleh cabai rawit di pasar tradisional setempat. Kondisi ini menyebabkan aktivitas usaha mereka tersendat. Seorang penjual mi yang ditemui pada Selasa malam (23/12/2025) mengatakan, stok cabai rawit hampir tidak tersedia sejak beberapa hari terakhir.
“Cabai rawit sangat kami butuhkan. Kalau tidak ada, menu mi pedas jadi tidak maksimal. Padahal itu yang paling banyak dipesan,” ujarnya.
Kelangkaan tersebut turut berdampak pada kenaikan harga. Pedagang yang masih bisa mendapatkan cabai rawit terpaksa membelinya dengan harga lebih tinggi, sehingga berimbas pada penyesuaian harga jual makanan. Situasi ini dinilai memberatkan, baik bagi pedagang maupun konsumen, terutama warga yang masih terdampak bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh pada akhir November lalu.
Terhambatnya pasokan dari daerah penghasil menjadi salah satu penyebab utama. Akses jalan menuju kawasan Tanah Gayo, yang selama ini menjadi sentra cabai rawit, masih terganggu akibat longsor dan banjir. Akibatnya, distribusi ke Panton Labu tidak berjalan normal.
“Akses dari kebun ke kota belum sepenuhnya pulih. Kendaraan pengangkut sulit masuk, jadi pasokan benar-benar berkurang,” kata pedagang lainnya.
Dalam kondisi tersebut, sebagian pedagang mencoba mencari alternatif dengan menggunakan jenis cabai lain atau cabai kering. Namun, langkah ini dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pelanggan karena perbedaan rasa.
“Banyak pembeli yang merasa rasanya berbeda. Kalau tidak pakai cabai rawit, kepedasannya tidak sama,” ungkapnya.
Para pedagang berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat segera mempercepat pemulihan akses distribusi dari daerah penghasil, sehingga pasokan cabai rawit kembali normal. Seiring upaya pembersihan jalan pascabencana yang masih berlangsung, mereka berharap kondisi ini dapat segera teratasi.
Sementara itu, masyarakat diimbau untuk memahami situasi yang terjadi dan tetap mendukung usaha kecil di tengah keterbatasan. Kelangkaan cabai rawit ini menjadi gambaran dampak lanjutan bencana alam yang tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memengaruhi stabilitas pasokan pangan dan roda perekonomian masyarakat. (*)
