BERITA TERKINI

Update Banjir Aceh Utara: 78 Warga Meninggal, 51 Masih Dilaporkan Hilang


ACEH UTARA | PASESATU.COM
– Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melaporkan perkembangan penanganan banjir besar yang melanda wilayah tersebut sejak 22 hingga 30 November 2025. Menurut keterangan Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir Ramli, hingga Ahad (30/11/2025) pukul 18.00 WIB tercatat 78 orang meninggal dunia dan 51 orang masih hilang akibat bencana tersebut.

Banjir dipicu oleh kedangkalan sungai, cuaca ekstrem, serta curah hujan tinggi selama lima hari berturut-turut. Kondisi diperparah oleh jebolnya tanggul di beberapa titik, termasuk di Krueng Pase (Kecamatan Samudera dan Nibong), Krueng Peutou (Lhoksukon), serta meluapnya aliran sungai seperti Krueng Keureuto, Krueng Ajo, Krueng Nisam, Krueng Langkahan, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Sawang.

Berdasarkan data BPBD Aceh Utara melaporkan 119.830 warga terdampak dengan 32.547 kepala keluarga yang harus mengungsi, menyebar di 221 titik. Pengungsi prioritas mencakup 71 ibu hamil, 573 balita, 582 lansia, dan 12 penyandang disabilitas.

Banjir mengakibatkan kerusakan luas pada infrastruktur publik serta pemukiman. Data sementara mencatat:
  • Ratusan rumah rusak — 66 rusak berat, 67 rusak sedang, 60 rusak ringan.
  • Sawah terendam seluas 12.782 hektare dan tambak 10.653 hektare.
  • 57 titik tanggul rusak dan 27 jembatan mengalami kerusakan.
  • 101 sekolah turut terdampak.
Pemerintah juga menyebut bahwa jaringan listrik dan komunikasi masih padam di sebagian besar wilayah, menghambat proses pendataan dan distribusi bantuan.

Beberapa kecamatan masih terputus aksesnya, antara lain Langkahan, Seuneddon, Baktiya, Baktiya Barat, Pirak Timu, Lapang, Samudera, Tanah Pasir, dan Sawang. Distribusi logistik dilakukan melalui jalur air untuk mencapai wilayah yang masih terendam.

Sebelumnya Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, telah menetapkan status Tanggap Darurat Penanganan Banjir pada 25 November 2025. Pemerintah fokus pada pemulihan akses, suplai bantuan mendesak, serta normalisasi aliran sungai menggunakan alat berat.

Muntasir Ramli menyatakan bahwa data bersifat sementara dan dapat berubah karena kondisi di lapangan serta padamnya jaringan komunikasi di hampir seluruh wilayah. (*)