BERITA TERKINI

Dari Gayo hingga Glee Madat, Sentra Pertanian Aceh Bangkit di Bawah Kepemimpinan Prabowo


ACEH UTARA | PASESATU.COM
– Suasana panen pagi di sawah-sawah Aceh Utara kini membawa semangat baru bagi para petani. Harga sejumlah komoditas seperti padi, bawang, wortel, buncis, pisang raja, jagung, cabai, kentang, dan tomat mencatat rekor tertinggi sepanjang tahun, seiring bergulirnya program pertanian nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Maimun (30), petani padi di kawasan tersebut, mengaku merasakan langsung manfaatnya.

“Dulu kami sering menjual padi dengan harga murah karena pasar tak menentu. Sekarang harga lebih stabil, jadi sebagian hasil panen bisa kami sisihkan untuk biaya sekolah anak,” ujarnya sambil menyiapkan gabah untuk dibawa ke penggilingan.

Program pertanian tahun 2024 menargetkan sejumlah kecamatan melalui dukungan APBN dan APBA. Beberapa wilayah unggulan antara lain:
  • Kuta Makmur – 10 hektare (APBN), fokus pada komoditas padi dan jagung.
  • Gayo – 1 hektare (APBA), penghasil utama sayuran seperti wortel, tomat, kacang, jagung, brokoli, terong belanda, dan avokad.
  • Aceh Besar – 2.000 hektare (target 3.000 hektare), menjadi sentra jagung terbesar di provinsi, dengan kawasan Glee Madat dikembangkan sebagai pusat jagung unggul.
  • Aceh Tenggara – 1.471 hektare, ditargetkan mampu menyerap hingga 5.000 ton jagung sepanjang tahun 2025.
  • Syamtalira Aron dan Muara Batu – masing-masing 1 hektare (APBA), fokus pada padi dan sayuran.
Di Gayo, Siti Aminah mengungkapkan peningkatan kualitas hasil panen berdampak pada permintaan pasar.

“Hasil panen memang bervariasi, tapi permintaan tinggi karena kualitas sayuran kami bagus. Sekarang Gayo mulai dikenal sebagai sentra sayur-mayur,” tuturnya.

Sementara di Aceh Besar, Rasyidin menuturkan tantangan yang dihadapi petani.

“Hujan sempat merusak sebagian tanaman, tapi harga jagung tahun ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya,” katanya.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan, capaian ini merupakan hasil kebijakan terstruktur pemerintah, mulai dari subsidi benih unggul, perbaikan sistem irigasi, penyediaan pupuk bersubsidi, hingga penguatan rantai distribusi.

“Di beberapa kecamatan, panen sudah berlangsung. Meski kualitas masih bervariasi, petani mulai merasakan manfaat nyata dari program ini,” ujarnya.

Pengamat pertanian Zainal Abidin menilai, lonjakan harga dan peningkatan produksi tidak semata dipengaruhi kondisi pasar atau cuaca.

“Kebijakan subsidi dan perbaikan infrastruktur pertanian memberi dampak langsung terhadap pendapatan petani,” katanya.

Kendati demikian, tantangan masih ada. Distribusi bantuan yang belum merata ke wilayah terpencil dan risiko cuaca ekstrem menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah. Namun bagi para petani di Aceh Utara, satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo menjadi titik balik yang menandai akhir dari masa sulit menuju panen yang lebih adil, stabil, dan sejahtera.(*)