BERITA TERKINI

Warga Lingkar Tambang PT Medco E&P Mengungsi, Seorang Perempuan Dilarikan ke Puskesmas Diduga Terpapar Gas

Sejumlah warga Desa Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, termasuk perempuan dan anak-anak, terlihat mengungsi ke halaman Kantor Camat Banda Alam pada Minggu (24/8/2025). Mereka mengaku khawatir terpapar bau gas menyengat yang diduga berasal dari aktivitas pencucian sumur gas PT Medco E&P Malaka.

ACEH TIMUR | PASESATU.COM 
– Puluhan warga Desa Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Minggu (24/8/2025), terpaksa meninggalkan rumah mereka setelah mencium bau gas menyengat yang diduga berasal dari aktivitas pencucian sumur gas di kluster Alue Siwah milik PT Medco E&P Malaka.

Sekitar 60 warga, terdiri dari perempuan, orang tua, dan anak-anak, berbondong-bondong menuju Kantor Camat Banda Alam. Namun sesampainya di lokasi, mereka mendapati kantor dalam keadaan tutup karena hari libur. Warga akhirnya bertahan di teras kantor tanpa fasilitas darurat, tempat tidur, maupun layanan medis.

Informasi yang dihimpun, bau gas mulai tercium sejak pagi. Semakin siang, aroma menyengat tersebut dirasakan lebih kuat hingga membuat sejumlah warga mengalami pusing dan sesak napas.

“Sejak pagi kami mencium bau gas sangat menyengat. Takut terjadi keracunan, kami segera membawa anak-anak keluar rumah dan mencari tempat aman,” ujar Rina (22), seorang ibu muda yang ikut mengungsi.

Di tengah kepanikan, Seorang pengungsi kembali mengalami muntah darah disertai pusing dan perut kembung. Korban bernama Lenawati, warga Desa Panton Rayek T, Kecamatan Banda Alam, diduga mengalami keracunan gas dari aktivitas PT Medco. Ia terpaksa dilarikan ke Puskesmas Banda Alam untuk mendapatkan penanganan medis.

“Awalnya dia mengeluh pusing, kemudian sulit bernapas. Kami khawatir kondisinya memburuk, sehingga langsung membawanya ke Puskesmas,” tutur seorang kerabat Linawati.

Kedatangan puluhan warga di Kantor Camat Banda Alam sekitar pukul 13.30 WIB tidak diiringi dengan adanya layanan darurat. Karena kantor tutup, para pengungsi hanya duduk di teras. Anak-anak tidur beralaskan lantai, sementara sebagian perempuan dan orang tua mengeluhkan pusing serta lemas.

“Anak-anak tidur di lantai, ada yang menangis karena sakit. Sampai sore belum ada yang datang membantu kami,” kata salah seorang warga.


Hingga pukul 16.30 WIB sore, warga masih bertahan tanpa adanya bantuan dari pemerintah maupun pihak perusahaan.

Camat Banda Alam, Azani, menyampaikan bahwa ia telah menerima informasi terkait adanya pengungsi dari Desa Panton Rayeuk T.

“Saya sudah mendapat laporan dari Kapolsek. Saat ini saya sedang berada di luar daerah, namun akan segera berkoordinasi dengan pihak Medco,” ujarnya singkat.

Menurut warga, bau gas masih terasa hingga menjelang malam. Beberapa orang mulai mengeluhkan mual dan sakit kepala. Warga khawatir jumlah pengungsi akan bertambah jika situasi tidak segera ditangani.

“Bau makin menyengat. Kalau tidak ada solusi, mungkin lebih banyak yang harus keluar dari rumah,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat.

Hingga Minggu malam, warga masih bertahan di Kantor Camat tanpa fasilitas darurat yang memadai. Seorang perempuan, Linawati, masih dalam perawatan medis akibat dugaan paparan gas.

Pemerintah Kecamatan Banda Alam berjanji akan segera melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan, sementara masyarakat berharap penanganan cepat dilakukan agar keselamatan mereka terjamin.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak PT Medco E&P Malaka belum memberikan jawaban atas konfirmasi yang disampaikan redaksi.(*) 

Editor : Syahrul Usman