Harga Gabah Tembus Rp 9.000 per Kg di Aceh Utara dan Aceh Timur, Stok Minim Saat Musim Tanam
ACEH | PASESATU.COM – Harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah wilayah sentra pertanian di Aceh Utara dan Aceh Timur melonjak tajam hingga menembus Rp 9.000 per kilogram. Kenaikan ini dipicu oleh minimnya pasokan bahan baku karena mayoritas petani sedang memasuki musim tanam gadu dan tidak memiliki stok gabah tersisa.
Pantauan media ini pada Sabtu, 19 Juli 2025, menunjukkan bahwa harga GKP di dua kabupaten tersebut mengalami lonjakan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp 7.000–Rp 8.000 per kilogram.
Menurut Azhar (43), seorang agen pengepul padi di Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, tren kenaikan harga gabah sudah berlangsung sejak awal musim panen Mei lalu. Ia mencatat, harga awal yang semula hanya Rp 6.500 per kilogram sempat naik ke Rp 7.000, lalu kembali melonjak tajam menjadi Rp 9.000 dalam dua bulan terakhir.
“Diperkirakan harga akan terus meningkat, bahkan bisa menembus Rp 10.000 per kilogram dalam waktu dekat,” ungkap Azhar.
Hal senada disampaikan oleh Ali Murtala, pemilik penggilingan padi di Aceh Utara. Ia menyebut bahwa harga gabah yang sebelumnya berkisar antara Rp 7.000 hingga Rp 7.200 per kilogram kini melonjak drastis dalam waktu sepekan.
“Lonjakan ini terjadi justru saat petani sedang masuk musim tanam, sehingga ketersediaan gabah sangat terbatas di tingkat petani,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan. Di satu sisi, permintaan gabah dari penggilingan dan pedagang tetap tinggi. Namun di sisi lain, ketiadaan stok gabah di tangan petani menyebabkan tekanan harga melonjak.
Dampak ke Harga Beras
Lonjakan harga gabah ini juga mulai memengaruhi harga beras di pasaran. Sejumlah pedagang beras eceran di pasar tradisional Kota Lhoksukon dan Idi Rayeuk melaporkan adanya kenaikan harga beras medium sebesar Rp 500–Rp 800 per kilogram dalam sepekan terakhir.
Menurut pelaku usaha penggilingan, biaya produksi yang ikut naik akibat harga bahan baku turut menjadi faktor pendorong kenaikan harga beras. Hal ini memicu kekhawatiran akan daya beli masyarakat, terutama di kawasan pedesaan.
Potensi Kenaikan Berlanjut
Jika tren ini terus berlanjut, pengusaha penggilingan padi memperkirakan harga gabah dapat menembus Rp 10.000 per kilogram dalam dua pekan ke depan, terutama jika tidak ada pasokan dari daerah lain seperti Bireuen atau Pidie yang memiliki jadwal panen lebih awal.
Sementara itu, petani yang tidak lagi memiliki stok gabah hanya bisa menanti hasil tanam berikutnya, yang baru akan dipanen sekitar Oktober hingga November mendatang.(*)



