Petani Aceh Bersuara: Ketahanan Pangan Harga Mati
Font Terkecil
Font Terbesar
LHOKSUKON – Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, suara lantang datang dari seorang ketua DPW Tani Merdeka provinsi Aceh di Geureudong Kupi, Aceh Utara. Cut Muhammad, Ketua DPW Tani Merdeka Provinsi, dengan tegas menyatakan bahwa ketahanan pangan adalah harga mati bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Aceh.
"Ketahanan pangan adalah ketika setiap orang, setiap saat, memiliki akses pada makanan yang cukup, aman, dan bergizi," ujar Cut Muhammad kepada wartawan, Minggu (9/2/2025).
"Ini bukan sekadar kebutuhan, tapi hak setiap manusia untuk hidup sehat dan produktif."
Cut Muhammad, yang juga, menyoroti pentingnya infrastruktur pertanian dalam mendukung ketahanan pangan.
Ia mencontohkan irigasi yang baik, harus segera di normalisasi untuk sayap kanan, kalau tidak segara di lakukan normalisasi air yang akan mengalir keperwahan warga tidak akan sampai, ini perlu tidak lanjut dari pemerintah kabupaten Aceh untuk segera menormalisa saluran yang ada di sayap kanan untuk sembilan kecamatan yang ada di Aceh Utara.
Masalah jalan pertanian yang memadai, fasilitas pendukung lainnya.
"Tanpa infrastruktur yang memadai, petani akan kesulitan meningkatkan produksi dan mendistribusikan hasil panen," jelasnya. "Akibatnya, masyarakat juga yang akan rugi karena harga pangan bisa melonjak tinggi."
Pernyataan Cut Muhammad ini bukan sekadar kata-kata kosong. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Aceh masih menghadapi tantangan dalam hal ketahanan pangan.
Pada tahun 2024, angka kemiskinan di Aceh mencapai 15,47%, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang sebesar 9,54%.
"Ini adalah ironi," kata Cut Muhammad.
"Aceh memiliki potensi pertanian yang besar, tapi apa masih banyak masyarakat yang kesulitan mengakses pangan yang layak?"
Cut Muhammad berharap, suara petani dapat didengar oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Ia mengajak semua pihak untuk bekerja sama membangun ketahanan pangan di Aceh.
"Ini bukan hanya tugas petani, tapi tugas kita bersama," pungkasnya. "Mari kita wujudkan ketahanan pangan untuk masa depan Aceh yang lebih baik.” (Muliadi) ***



