SD Negeri 5 Baktiya Mulai Pembelajaran Darurat Pascabanjir
Font Terkecil
Font Terbesar
Penulis : Syahrul | Editor : Tim Pasesatu
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Aktivitas belajar mengajar di SD Negeri 5 Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, kembali dimulai pada hari pertama masuk sekolah pascabanjir besar yang melanda wilayah tersebut. Meski sarana dan prasarana sekolah mengalami kerusakan parah, semangat para siswa untuk kembali belajar tetap tinggi.
Kepala SD Negeri 5 Baktiya, Iskandar, S.Pd., M.Pd., mengatakan kehadiran siswa pada hari pertama sekolah cukup menggembirakan. Menurutnya, anak-anak tetap datang meskipun sebagian besar tidak lagi memiliki perlengkapan sekolah akibat banjir.
“Alhamdulillah, pada hari pertama sekolah anak-anak ramai yang hadir. Walaupun mereka tidak memiliki perlengkapan sekolah, semangat mengikuti proses pembelajaran sangat luar biasa,” ujar Iskandar, Senin (05/01/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan belajar pada hari pertama lebih difokuskan pada pemulihan psikologis siswa yang terdampak trauma banjir. Metode pembelajaran dilakukan secara sederhana dan menenangkan.
“Hari ini lebih kepada bercerita, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, tafsir singkat, serta bersholawat untuk menghibur anak-anak agar trauma mereka perlahan pulih,” jelasnya.
Banjir yang melanda kawasan Baktiya berdampak luas terhadap peserta didik. Iskandar menyebutkan, total 290 siswa SD Negeri 5 Baktiya terdampak langsung banjir. Para siswa tersebut berasal dari empat desa, yakni Mantang Kumbang, Cot Mane, Mantang Kumbang, dan Cot U laya.
“Semua siswa terdampak. Bahkan, ada beberapa siswa kami yang rumahnya hanyut terbawa banjir dan sampai sekarang masih mengungsi,” ungkap Iskandar.
Selain kehilangan tempat tinggal, dampak banjir juga menyebabkan kerugian harta benda bagi sebagian besar keluarga siswa. Berdasarkan pendataan pihak sekolah, sekitar 40 persen siswa kehilangan harta benda, sementara seluruh siswa terdampak banjir dalam kategori ringan hingga berat.
Di tengah keterbatasan fasilitas, proses pembelajaran tetap dilaksanakan dengan menyesuaikan kondisi lapangan. Seluruh perabot sekolah seperti meja dan kursi tidak dapat digunakan akibat rusak terendam banjir.
“Pembelajaran dilakukan di lantai karena lantai sudah dibersihkan. Walaupun demikian, kami tetap mengikuti anjuran pemerintah dengan menerapkan kurikulum darurat, dan Alhamdulillah hari ini bisa berjalan,” katanya.
Iskandar menambahkan, jam pulang sekolah tetap diberlakukan seperti hari-hari biasa agar anak-anak tetap merasakan suasana normal dan rutinitas sekolah.
Namun demikian, kondisi lingkungan sekolah hingga kini masih memprihatinkan. Iskandar mengungkapkan bahwa halaman sekolah masih tergenang lumpur dengan ketinggian mencapai sekitar 50 sentimeter. Lumpur tebal tersebut belum dapat dibersihkan secara manual karena volumenya cukup besar.
“Lumpur di halaman sekolah masih tinggi, sekitar 50 sentimeter. Untuk membersihkannya membutuhkan alat berat karena lumpur tersebut harus dibuang ke tempat lain,” jelasnya.
Ia menilai, keberadaan lumpur yang masih menumpuk menjadi kendala utama dalam proses pemulihan sekolah secara menyeluruh, terutama untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan layak bagi siswa.
Iskandar tidak menutupi rasa prihatin atas musibah yang menimpa sekolah yang dipimpinnya. Menurutnya, banjir kali ini merupakan bencana terparah sepanjang sejarah berdirinya SD Negeri 5 Baktiya.
“Kami sangat prihatin dan sangat sedih. Ini adalah musibah terbesar dan terparah yang pernah dialami sekolah kami,” tuturnya.
Terkait kondisi fisik sekolah, Iskandar menyebut tingkat kerusakan mencapai 99 persen. Seluruh peralatan dan perlengkapan sekolah dipastikan tidak dapat digunakan lagi.
“Kerusakan hampir total. Semua peralatan sekolah rusak dan tidak bisa dipakai,” pungkasnya.
Pihak sekolah berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah serta berbagai pihak, terutama dalam penyediaan alat berat dan sarana pendukung lainnya, agar proses pembersihan dan pemulihan sekolah dapat segera dilakukan sehingga kegiatan belajar mengajar bisa kembali berjalan secara normal dan aman.(*)



