BERITA TERKINI

Pengungsi Mulai Diserang ISPA, Demam, dan Diare, Joel Panton Ingatkan Potensi Korban Massal


ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Kondisi para pengungsi pasca banjir bandang di Kabupaten Aceh Utara dilaporkan semakin memprihatinkan. Tokoh kemanusiaan, Joel Panton, yang sebelumnya turut aktif dalam gerakan relawan pada masa tsunami Aceh, mengingatkan bahwa situasi di lapangan berpotensi menimbulkan korban lebih banyak apabila tidak segera dilakukan penanganan terpadu oleh pihak terkait.

Di sejumlah titik pengungsian, warga mulai mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), demam, diare, serta kutu air. Kondisi ini dipicu oleh lingkungan pengungsian yang lembap, minimnya ketersediaan air bersih, serta sanitasi yang tidak memadai. Terbatasnya fasilitas kesehatan, kurangnya persediaan obat-obatan, dan belum optimalnya koordinasi layanan medis turut memperburuk keadaan.

Selain ancaman penyakit, para pengungsi juga menghadapi keterbatasan pangan. Distribusi logistik disebut belum merata, sementara akses jalan menuju beberapa lokasi pengungsian masih terhambat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan munculnya kasus gizi buruk dan dehidrasi, khususnya pada anak-anak serta lansia yang lebih rentan.

Joel Panton menyoroti pentingnya tata kelola penanganan bencana yang lebih terstruktur. Menurutnya, sebagian warga belum mendapatkan informasi yang jelas terkait bantuan, proses evakuasi, maupun layanan kesehatan. Ia juga menyampaikan bahwa terdapat laporan mengenai beberapa jenazah korban di wilayah terdampak yang belum berhasil ditemukan akibat tebalnya lumpur serta terbatasnya alat berat yang dapat digunakan.

Ia mendesak pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, dan lembaga kemanusiaan untuk memperkuat koordinasi di lapangan. Joel menilai perlu adanya pembentukan posko kesehatan terpadu, percepatan distribusi logistik, dan penambahan tenaga medis pada titik-titik pengungsian guna mencegah risiko meningkatnya jumlah korban.

“Penanganan yang cepat dan terkoordinasi sangat dibutuhkan agar situasi tidak semakin memburuk,” ujarnya.

Dengan upaya bersama, diharapkan kondisi para pengungsi dapat segera tertangani dan risiko krisis kesehatan dapat diminimalkan. (*)