BERITA TERKINI

Korban Banjir Gedumbak Bertahan di Tenda Tanpa Listrik dan Kepastian

Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul

ACEH UTARA | PASESATU.COM
-  Sebulan lebih setelah banjir besar melanda Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara tepatnya pada tanggal 26 November 2025 lalu , ratusan warga Desa Gedumbak masih bertahan di posko pengungsian sementara di kawasan pinggiran sungai. 

Hingga 30 Desember 2025, para penyintas hidup dalam keterbatasan, tanpa aliran listrik, fasilitas memasak yang memadai, serta tanpa kepastian terkait masa depan tempat tinggal mereka.

Kondisi tersebut disampaikan Subarni M. Ali, warga Desa Gedumbak yang kini mengungsi dari Dusun Bargasa ke kawasan sekitar Jembatan Gedumbak. Ia mengatakan, dirinya bersama ratusan keluarga lain terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat setelah rumah mereka rusak parah dan terseret banjir bandang.

“Di sini kondisinya sangat berat. Tidak ada lampu, malam gelap. Untuk memasak saja susah, mau bikin bubur pun terbatas,” ujar Subarni saat ditemui di lokasi pengungsian.

Menurut Subarni, jumlah warga yang menghuni area pengungsian mencapai lebih dari 200 kepala keluarga. Kepadatan tenda menjadi persoalan tersendiri, karena dalam satu tenda dapat ditempati hingga empat kepala keluarga, sementara tenda lainnya diisi dua hingga tiga kepala keluarga. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan, terutama saat malam hari.

“Kalau malam udara dingin sekali, tidur pun tidak nyaman. Rumah sudah tidak ada, tidak tahu harus pulang ke mana,” ucapnya.

Subarni juga mengenang peristiwa banjir besar yang terjadi pada akhir November 2025. Saat itu, air datang secara tiba-tiba dan mencapai ketinggian lebih dari dua meter, merendam permukiman dan akses jalan warga.

“Tidak pernah terbayang air setinggi itu. Semua jalan berubah jadi sungai,” katanya.

Ia menuturkan, istri dan anaknya lebih dulu berhasil menyelamatkan diri, sementara dirinya baru dapat bertemu kembali dengan keluarga lima hari kemudian di kawasan pasar, setelah situasi mulai terkendali.

“Pagi Kamis rumah saya sudah rata dengan tanah, habis dibawa arus. Sawah juga sudah tidak ada,” ujarnya.

Selain kehilangan tempat tinggal, warga Desa Gedumbak juga kehilangan sumber penghidupan. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, namun lahan pertanian rusak total akibat terjangan banjir.

“Kami bingung ke depan bagaimana. Pekerjaan tidak ada, sawah habis semua,” kata Subarni.

Dengan keterbatasan fasilitas di pengungsian, mulai dari penerangan, sarana memasak, hingga akses layanan kesehatan, warga berharap adanya penanganan pascabanjir yang lebih serius dan berkelanjutan dari pemerintah, termasuk kejelasan relokasi serta pemulihan ekonomi masyarakat terdampak.

“Kami hanya bisa bertahan di posko ini. Harapan kami ada solusi, jangan dibiarkan terlalu lama dalam kondisi seperti ini,” tutup Subarni.(*)