Di Pundak Kecil Itu, Galon Air dan Beban Kehidupan
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Senin malam (22/12/2025) Malam telah larut di Panton Labu. Di tengah jalanan yang mulai lengang, seorang anak masih tampak berjalan perlahan. Di pundaknya, sebuah galon air isi ulang dipanggul dengan kedua tangan, ukurannya nyaris menutupi tubuhnya yang kecil. Langkahnya teratur, tanpa keluhan, menuju sebuah kedai kopi di sudut kota.
Anak itu mengenakan sandal jepit yang tampak telah lama digunakan. Telapak kakinya masih menyisakan lumpur banjir yang mengering. Bajunya terlihat basah, bukan oleh hujan, melainkan cipratan air dari galon yang sesekali bergeser saat ia memeluknya erat agar tidak terjatuh.
Pasca banjir yang melanda wilayah Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, sebagian warga masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Kerusakan jaringan pipa menyebabkan pasokan air bersih dari PDAM belum kembali normal di sejumlah titik. Kondisi ini memaksa warga dan pelaku usaha, termasuk kedai kopi, mengandalkan air isi ulang dengan biaya tambahan.
Di tengah keterbatasan itu, anak tersebut menjadi salah satu pengantar air. Pekerjaan ini ia lakukan untuk membantu orang tuanya yang penghasilannya berkurang sejak banjir melanda. Upah yang diterima tidak besar, namun cukup berarti bagi keluarganya untuk bertahan di masa pemulihan.
Usianya masih belia, usia di mana sebagian besar anak seusianya menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain. Namun keadaan membuatnya lebih cepat mengenal arti tanggung jawab. Ia bekerja tanpa sorotan, tanpa perhatian, hanya ditemani gelap malam dan beban yang dipikulnya.
Kisah anak ini mencerminkan potret sunyi pemulihan pasca banjir di Tanah Jambo Aye. Di balik data dan laporan kerusakan, ada kehidupan yang berjalan pelan, menyesuaikan diri dengan keterbatasan. Di jalanan Panton Labu, penderitaan tidak selalu tampak riuh. Kadang ia hadir dalam langkah kecil seorang anak, memanggul galon air, mengingatkan bahwa pemulihan belum sepenuhnya usai.(*)
