Raja di Istana, Abdi di Singgasana Informasi, Rakyat Tetap di Rumah yang Hampir Runtuh
Font Terkecil
Font Terbesar
Ketika laporan terlihat indah, tetapi kenyataan rakyat masih jauh dari kesejahteraan.
PASESATU.COM - Di sebuah kerajaan yang sangat makmur, sang Raja tinggal di istana megah. Lantainya mengilap, atapnya kokoh, pintunya kuat, dan hujan sebesar apa pun tidak pernah membuat Raja harus memindahkan tempat tidur ke sudut rumah.
Di sekeliling Raja berdiri para abdi dalam.
Mereka bukan Raja. Bukan pula pemilik kerajaan. Namun, merekalah yang paling dekat dengan telinga sang Raja.
Setiap pagi, seorang abdi dalam datang membawa kabar.
“Baginda, rakyat semuanya sudah hidup nyaman. Rumah-rumah mereka layak dihuni.”
Raja tersenyum puas.
“Bagus. Berarti rakyatku sejahtera.”
“Benar, Baginda,” jawab abdi dalam sambil membungkuk.
Hari berikutnya, laporan yang sama kembali terdengar.
“Jalan-jalan rakyat bagus, rumah-rumah rakyat layak, bantuan tersalurkan, dan semuanya aman.”
Raja pun semakin yakin bahwa kerajaannya baik-baik saja.
Namun, jauh dari istana, seorang ibu sedang menampung air hujan yang menetes dari atap rumahnya.
Satu ember.
Dua ember.
Tiga ember.
Bukan untuk mencuci. Bukan pula untuk mandi. Melainkan agar lantai rumahnya tidak berubah menjadi kolam.
Di rumah lain, seorang ayah menatap dinding yang retak. Ia tahu, sedikit lagi retakan itu bisa berubah menjadi runtuhan.
Anaknya bertanya,
“Pak, kapan rumah kita diperbaiki?”
Sang ayah terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Sebab, di istana, kabarnya rumah rakyat sudah layak dihuni. Sementara di kampung, kenyataannya rakyat masih tidur ditemani kecemasan: apakah malam ini atap akan roboh atau dinding yang lebih dahulu menyerah?
### Ketika Raja Turun dari Istana
Suatu hari, Raja ingin melihat sendiri keadaan rakyat.
“Antarkan aku ke rumah rakyat,” perintahnya.
Para abdi dalam terkejut.
“Jangan, Baginda!”
“Mengapa?”
“Jalannya jauh. Tidak perlu, Baginda. Kami sudah melihat semuanya.”
Raja mengerutkan dahi.
“Kalau begitu, bawa aku ke rumah yang katanya paling layak.”
Para abdi saling berpandangan.
Mereka tahu persoalannya. Rumah yang selama ini mereka ceritakan kepada Raja hanya ada dalam laporan, bukan di dunia nyata.
Akhirnya, Raja keluar dari istana.
Ia melihat rumah-rumah reyot, atap yang bocor, dinding yang lapuk, dan lantai yang berlumpur.
Di sebuah rumah, seorang anak tidur beralaskan tikar tipis, sementara hujan masih menetes dari celah atap.
Raja terdiam.
Ia menoleh kepada abdi dalam.
“Bukankah kalian mengatakan rumah rakyat sudah layak?”
Abdi dalam menunduk.
“Benar, Baginda.”
“Lalu, bagaimana dengan rumah ini?”
Abdi dalam kembali menunduk.
“Itu... mungkin belum masuk dalam laporan.”
Raja menarik napas panjang.
Saat itulah, ia mengerti. Ternyata, istana tidak pernah kekurangan informasi. Yang kurang adalah kejujuran dalam menyampaikan informasi.
Terlalu lama Raja hanya mendengar kabar dari orang-orang yang tinggal nyaman di dalam lingkaran istana. Sementara itu, suara rakyat yang rumahnya hampir roboh hanya terdengar ketika penderitaan mereka sudah menjadi berita.
### Laporan yang Indah, Kenyataan yang Berbeda
Sejak hari itu, Raja membuat satu aturan baru.
“Jangan hanya melaporkan keadaan rumah rakyat dari balik meja. Datanglah, lihat atapnya, sentuh dindingnya, dan duduklah di lantainya. Sebab, laporan bisa terlihat indah, tetapi kenyataan tidak bisa dipoles.”
Perintah itu menjadi pengingat bagi seluruh abdi dalam bahwa tugas mereka bukan sekadar menyampaikan kabar yang menyenangkan hati penguasa.
Tugas mereka adalah menyampaikan keadaan yang sebenarnya.
Termasuk kemiskinan, kerusakan rumah, bantuan yang belum tersalurkan, dan berbagai persoalan rakyat yang masih membutuhkan perhatian.
Sebab, seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan laporan keberhasilan. Ia juga membutuhkan keberanian untuk mendengar kekurangan dan melihat penderitaan rakyat secara langsung.
Pada akhirnya, rakyat memahami satu hal:
Istana boleh megah.
Raja boleh nyaman.
Abdi dalam boleh pandai menyusun laporan.
Namun, rumah rakyat yang tidak layak huni tetaplah rumah yang tidak layak huni.
Atap yang bocor tidak akan menjadi kokoh hanya karena ditulis sebagai rumah yang baik. Dinding yang retak tidak akan menjadi kuat hanya karena disebut aman dalam laporan.
Penderitaan rakyat tidak akan berubah menjadi kesejahteraan hanya karena ditulis berbeda dalam selembar laporan.
Sebab, kesejahteraan bukanlah sekadar apa yang tertulis dalam laporan, melainkan apa yang benar-benar dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari.
Dan seorang pemimpin yang ingin mengetahui keadaan negerinya tidak cukup hanya duduk di singgasana informasi.
Ia harus berani turun, melihat, mendengar, dan memastikan sendiri.
Karena terkadang, kebenaran yang paling penting justru berada di rumah-rumah yang paling jauh dari istana.***
Editor : Syahrul




