BERITA TERKINI

Menjilat Raja, Mengusap Darah di Ujung Pedang

Menjilat Raja, Mengusap Darah di Ujung Pedang

PASESATU.COM
- Pada suatu pagi yang kelabu, Raja Arwana berdiri di balkon istana. Di bawahnya, rakyat memenuhi alun-alun. Bukan untuk merayakan kemenangan, bukan pula untuk menyambut pesta kerajaan.

Mereka datang membawa perut kosong, wajah letih, dan harapan yang hampir padam.

Pajak dinaikkan. Lumbung-lumbung rakyat disita. Harga pangan melonjak, sementara para pejabat istana sibuk menyusun kata-kata indah untuk membenarkan penderitaan yang mereka saksikan.

Di belakang raja berdiri Patih Sura, Menteri Wira, dan sejumlah abdi kerajaan. Mereka mengenakan pakaian terbaik, tersenyum lebar, dan menundukkan kepala setiap kali raja menoleh.

“Paduka,” ujar Patih Sura, “kebijakan kenaikan pajak ini merupakan bukti keberanian Paduka. Pemimpin besar memang harus berani mengambil keputusan yang tidak selalu disukai rakyat.”

Menteri Wira segera menyambung.

“Benar, Paduka. Rakyat yang mengeluh mungkin belum memahami visi besar kerajaan. Penderitaan hari ini adalah harga yang harus dibayar untuk masa depan yang gemilang.”

Raja mengangguk puas.

Di bawah balkon, seorang ibu menggendong anak yang tubuhnya kurus. Anak itu tidak menangis. Tenaganya bahkan tidak cukup untuk menangis.

Raja sempat memandang ke arah mereka.

“Siapa yang berdiri di sana?” tanyanya.

Namun, Patih Sura buru-buru menjawab.

“Itu rakyat setia, Paduka. Mereka datang untuk menunjukkan dukungan.”

Raja tidak bertanya lagi.

Begitulah cara kebohongan bekerja di istana. Ia tidak selalu datang dengan wajah kasar. Kadang-kadang, ia mengenakan pakaian resmi, berbicara dengan bahasa sopan, dan berdiri sangat dekat dengan penguasa.

Hari-hari berlalu. Kelaparan menyebar ke desa-desa.

Warga menjual ternak, perhiasan, dan tanah untuk membeli makanan. Sebagian keluarga bahkan mengurangi porsi makan agar anak-anak mereka tetap bisa bertahan hidup.

Di istana, laporan yang diterima raja justru terdengar menggembirakan.

“Produksi pangan tetap terkendali.”

“Rakyat masih mendukung kebijakan Paduka.”

“Situasi keamanan aman dan kondusif.”

Laporan-laporan itu disusun dengan kalimat yang rapi, tetapi menyembunyikan kenyataan yang berantakan.

Setiap keluhan diperlakukan sebagai ancaman. Setiap pertanyaan dianggap sebagai pembangkangan. Setiap orang yang berani mengkritik dicurigai sedang merusak wibawa kerajaan.

Suatu hari, ratusan warga mendatangi alun-alun istana.

Mereka tidak membawa senjata. Mereka membawa keranjang kosong, dokumen pajak, dan suara yang selama ini tidak pernah didengar.

Jaka, seorang pemuda dari desa paling terdampak, berdiri di barisan terdepan.

“Raja harus mengetahui keadaan kami!” teriaknya. “Kami bukan musuh kerajaan. Kami hanya meminta makanan, keadilan, dan kesempatan untuk hidup!”

Seorang prajurit melangkah maju.

“Bubarkan diri!”

“Kami hanya ingin berbicara!”

“Bubarkan diri!”

Ketegangan meningkat. Dorongan terjadi. Suara rakyat bercampur dengan teriakan prajurit.

Lalu, sebilah pedang terhunus.

Jaka terjatuh.

Darah mengalir dari lengannya, membasahi batu-batu alun-alun yang sebelumnya menjadi tempat rakyat berkumpul untuk menyampaikan harapan.

Untuk sesaat, kerumunan terdiam.

Dari balkon, Raja Arwana menyaksikan semuanya.

“Paduka,” bisik Patih Sura, “jangan sampai kejadian kecil ini mengganggu ketenangan kerajaan. Rakyat harus belajar menghormati aturan.”

Kejadian kecil.

Begitulah darah rakyat disebut ketika yang terluka bukan keluarga pejabat, bukan orang-orang yang duduk di ruang istana, dan bukan mereka yang memiliki akses langsung kepada raja.

Menteri Wira berjalan mendekati prajurit yang memegang pedang. Ia mengeluarkan saputangan sutra dari sakunya, lalu mengusap darah yang menempel di ujung senjata itu.

“Pedang ini telah menjalankan tugasnya,” katanya. “Ketertiban kerajaan harus dijaga, apa pun risikonya.”

Ia tidak menunduk kepada Jaka.

Ia tidak bertanya apakah pemuda itu masih bernapas.

Ia justru sibuk memastikan bahwa darah di ujung pedang tidak menjadi noda bagi kehormatan istana.

Para abdi lainnya bertepuk tangan.

Mereka memuji ketegasan raja. Mereka memuji keberanian prajurit. Mereka memuji ketertiban yang dibangun di atas ketakutan.

Tidak ada yang menyebut perut kosong.

Tidak ada yang membahas pajak yang mencekik.

Tidak ada yang bertanya mengapa rakyat harus terluka hanya untuk mendapatkan kesempatan berbicara.

Di hadapan kekuasaan, sebagian orang tidak lagi melihat penderitaan sebagai masalah yang harus diselesaikan. Mereka melihatnya sebagai gangguan yang harus disembunyikan.

Namun, di tengah kerumunan, seorang abdi tua bernama Ki Laksana berlutut di samping Jaka.

Ia merobek ujung jubahnya dan membalut luka pemuda itu.

Kemudian, ia berdiri menghadap balkon.

“Paduka!”

Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk menghentikan bisikan di alun-alun.

“Rakyat tidak sedang menyerang kerajaan. Mereka sedang mencari pertolongan. Mereka tidak datang membawa pedang. Mereka datang membawa keluhan yang tidak pernah sampai ke telinga Paduka.”

Patih Sura mendengus.

“Jaga ucapanmu, Ki Laksana. Jangan menghasut rakyat dengan kata-kata yang tidak perlu.”

Ki Laksana menoleh kepadanya.

“Yang menghasut bukanlah orang yang menyampaikan penderitaan. Yang menghasut adalah mereka yang terus memuji penguasa, sementara rakyat dibiarkan kelaparan.”

Alun-alun mendadak sunyi.

Ki Laksana kembali menatap raja.

“Paduka, istana yang dipenuhi pujian belum tentu dipenuhi kebenaran. Jika semua laporan hanya berisi kabar baik, bagaimana Paduka akan mengetahui bahwa rakyat sedang menderita?”

Kebenaran yang Membahayakan Kedudukan

Patih Sura tertawa kecil.

“Orang tua ini sudah kehilangan akal. Ia menganggap keluhan rakyat lebih penting daripada kewibawaan kerajaan.”

“Tidak,” jawab Ki Laksana. “Aku hanya memahami bahwa kewibawaan yang harus dijaga dengan menutup mulut rakyat bukanlah kewibawaan. Itu ketakutan yang diberi pakaian kebesaran.”

Beberapa warga mulai mengangkat kepala.

Raja Arwana memandang para abdinya satu per satu.

Ia melihat Patih Sura yang selalu hadir dengan pujian.

Ia melihat Menteri Wira yang baru saja membersihkan darah dari ujung pedang.

Ia melihat prajurit yang berdiri kaku.

Dan ia melihat rakyat yang menahan lapar, sementara para pejabat sibuk menjelaskan bahwa semuanya baik-baik saja.

Tiba-tiba, sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya:

Selama ini, apakah mereka melayaniku dengan kesetiaan, atau hanya melindungi kedudukan mereka sendiri?

Raja terdiam.

Ia teringat laporan-laporan yang selalu terdengar sempurna. Ia teringat desa-desa yang tidak pernah dikunjunginya. Ia teringat wajah-wajah rakyat yang hanya ia lihat dari kejauhan.

Lalu, pandangannya jatuh kepada Jaka.

Seorang pemuda yang terluka karena meminta agar suara rakyat didengar.

“Buka gudang gandum,” titah raja.

Patih Sura terkejut.

“Paduka, persediaan kerajaan harus dijaga. Jika dibuka seluruhnya, kita mungkin menghadapi kekurangan”

“Buka gudang gandum,” ulang raja, kali ini dengan suara lebih tegas.

“Turunkan pajak. Periksa kembali seluruh kebijakan yang membebani rakyat.”

Menteri Wira mencoba menyela.

“Paduka, keputusan ini bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin melemahkan kerajaan.”

Raja menatapnya.

“Dan berapa banyak rakyat yang harus kelaparan agar kalian merasa kerajaan ini kuat?”

“Mulai hari ini,” lanjut raja, “setiap laporan harus disampaikan sebagaimana adanya. Jangan sembunyikan penderitaan rakyat hanya agar aku merasa nyaman.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan siapa pun yang menghalangi kebenaran demi mempertahankan kedudukannya akan dimintai pertanggungjawaban.”

Untuk pertama kalinya, Patih Sura dan Menteri Wira tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk memuji.

Sejak hari itu, Raja Arwana mulai mengunjungi desa-desa. Ia melihat lumbung yang kosong, rumah-rumah yang sepi, dan keluarga yang bertahan hidup dengan persediaan seadanya.

Ia mendengarkan keluhan yang sebelumnya hanya dianggap sebagai gangguan.

Namun, perubahan tidak datang hanya melalui titah.

Sebagian pejabat menolak. Sebagian lainnya menjalankan perintah dengan setengah hati. Mereka telah terlalu lama menikmati kedudukan yang dibangun dari pujian dan kedekatan dengan penguasa.

Ki Laksana tetap menjadi abdi yang paling sering membuat raja merasa tidak nyaman.

Ia tidak selalu menyampaikan kabar yang menyenangkan. Ia tidak selalu mengangguk. Ia tidak pernah menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang harus ditutupi hanya karena dilakukan oleh penguasa.

Suatu hari, Raja Arwana bertanya kepadanya.

“Ki Laksana, mengapa engkau tidak pernah memujiku seperti abdi yang lain?”

Ki Laksana tersenyum tipis.

“Karena Paduka tidak membutuhkan orang yang membuat Paduka selalu merasa benar. Paduka membutuhkan orang yang berani mengatakan ketika Paduka keliru.”

Raja terdiam.

“Pujian bisa membuat seorang raja merasa besar,” lanjut Ki Laksana. “Namun, hanya kebenaran yang dapat membuatnya tetap berdiri.”

Kekuasaan yang dikelilingi sanjungan dapat kehilangan kemampuan untuk melihat kenyataan. Ketika pejabat lebih sibuk menjaga perasaan penguasa daripada menyampaikan penderitaan rakyat, kebijakan dapat menjauh dari kebutuhan masyarakat.

Raja yang hanya mendengar pujian mungkin akan kehilangan suara rakyat. Dan ketika darah rakyat diusap dari ujung pedang, luka ketidakadilan tidak serta-merta menghilang.

Sebab, singgasana boleh tinggi, mahkota boleh berkilau, dan istana boleh dijaga oleh ribuan prajurit.

Namun, kekuasaan yang kehilangan kepercayaan rakyat pada akhirnya hanya akan memiliki tembok, bukan pengikut.

Dan ketika semua orang memilih menjilat, orang yang berani berkata jujur akan menjadi suara yang paling dibutuhkan sekaligus suara yang paling ditakuti.***

Editor : Syahrul