Lama Terpisah Pascabencana, Dua Kerabat Ini Akhirnya Bertemu di Milad Samudera Pasai ke-800
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Di tengah kemeriahan peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 di Kabupaten Aceh Utara, Minggu (13/9/2026) malam, sebuah pertemuan sederhana justru menyimpan kisah yang menyentuh.
Abdul Rafar akhirnya kembali bertatap muka dengan kerabatnya, Muhammad Daud, S.K.M., M.Si., yang akrab disapa Mayor Daud.
Bagi sebagian orang, pertemuan itu mungkin terlihat seperti jabat tangan dan percakapan biasa. Namun, bagi keduanya, momen tersebut memiliki arti berbeda. Mereka telah lama tidak bertemu setelah bencana banjir bandang yang melanda kawasan tempat mereka beraktivitas.
Bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan dan memaksa masyarakat berhadapan dengan situasi sulit. Dalam kondisi pascabencana, jarak, kesibukan, serta keadaan yang berubah juga membuat sejumlah orang yang sebelumnya mudah bertemu harus menjalani waktu secara terpisah.
Kabar tentang keluarga dan kerabat pun lebih sering disampaikan dari kejauhan.
Waktu terus berjalan. Keinginan untuk bertemu tetap ada, tetapi kesempatan belum kunjung datang.
Hingga akhirnya, peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 menjadi ruang yang mempertemukan mereka kembali.
Malam itu, di tengah suasana perayaan, Rafar dan Mayor Daud kembali bertemu.
Tidak banyak kata yang diperlukan.
Jabat tangan, senyum, dan tatapan mata menjadi bagian dari pertemuan yang berlangsung penuh keharuan.
Rafar mengaku terharu karena akhirnya dapat kembali bertemu langsung dengan kerabatnya setelah sekian lama.
«“Saya sangat terharu bisa bertemu kembali. Selama ini kami hanya bisa saling menanyakan kabar. Malam ini akhirnya bisa bertatap muka lagi,” ujar Rafar.»
Pernyataan itu menggambarkan sederhana namun dalamnya arti sebuah pertemuan setelah lama terpisah.
Sebab, kerinduan tidak selalu hadir dalam bentuk cerita panjang. Terkadang, ia hanya berupa pertanyaan sederhana tentang kabar, pesan singkat, atau harapan agar suatu hari dapat kembali duduk dan berbicara secara langsung.
Malam itu, harapan tersebut akhirnya terwujud.
Mayor Daud juga menyampaikan rasa syukur dan harunya karena kembali dipertemukan dengan kerabatnya.
Bagi masyarakat Aceh Utara, bencana banjir bandang meninggalkan cerita panjang. Setelah air surut, proses pemulihan tidak serta-merta menghapus seluruh dampak yang ditinggalkan.
Namun, di tengah perjalanan untuk bangkit, selalu ada kisah-kisah kecil yang memberikan makna.
Pertemuan Rafar dan Mayor Daud menjadi salah satunya.
Tidak ada panggung khusus untuk pertemuan itu. Tidak ada seremoni. Hanya dua kerabat yang akhirnya kembali bertemu setelah lama terpisah oleh keadaan.
Justru kesederhanaan itulah yang membuat momen tersebut terasa berarti.
Banjir bandang mungkin pernah membuat keduanya berjauhan secara fisik. Namun, keadaan itu tidak menghapus hubungan kekeluargaan yang telah terjalin.
Pada malam peringatan 800 tahun Samudera Pasai tersebut, sebuah kerinduan yang selama ini hanya disampaikan melalui kabar akhirnya mendapatkan jawaban dalam sebuah pertemuan.
Sebuah jabat tangan pun menjadi lebih dari sekadar sapaan.
Ia menjadi penanda bahwa setelah melewati jarak, waktu, dan keadaan yang tidak mudah, dua kerabat akhirnya kembali berada dalam ruang yang sama.
Dan di antara riuh peringatan Milad Samudera Pasai ke-800, pertemuan itu mengingatkan bahwa setelah sebuah bencana, yang perlu dipulihkan bukan hanya rumah, jalan, dan fasilitas yang rusak.
Ada pula hubungan antarmanusia, silaturahmi, dan kerinduan yang perlahan menemukan jalan untuk kembali.***
Editor : Syahrul




