BERITA TERKINI

Ida Goeltom Pulang ke Kampung Halaman, Rayakan Maulid dan Berbagi Kebahagiaan

Ida Goeltom Pulang, Berbagi di Kampung Halaman

LANGSA | PASESATU.COM — Ada sesuatu yang berbeda dari sebuah kepulangan.

Tanah yang dahulu menjadi tempat bermain kembali dipijak. Jalan-jalan yang menyimpan kenangan kembali dilewati. Wajah-wajah yang pernah akrab kembali ditemui. Di kampung halaman, seseorang tidak hanya menemukan sebuah tempat, tetapi juga bagian dari dirinya yang pernah tertinggal.

Begitulah suasana yang terasa ketika Ida Goeltom kembali ke Desa Alue Brawe, Kecamatan Langsa Kota, Kota Langsa, Selasa (1/9/2026).

Kepulangannya kali ini bukan sekadar untuk melepas rindu. Di tanah kelahirannya itu, Ida memilih merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW bersama masyarakat sekaligus berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim.

Perayaan itu berlangsung sederhana dalam balutan suasana kebersamaan. Namun, di balik rangkaian acara tersebut, ada pesan yang jauh lebih besar: bahwa pulang dapat menjadi kesempatan untuk berbagi.

Ketika Maulid Menjadi Ruang Kebersamaan

Maulid Nabi di Alue Brawe diisi dengan lantunan pujian kepada Rasulullah SAW dan dakwah Islamiyah. Warga berkumpul, bersilaturahmi, dan mengikuti rangkaian kegiatan dalam suasana penuh kekeluargaan.

Bagi Ida Goeltom, yang merupakan Bendahara Group Aceh Bersatu (GAB), peringatan Maulid di kampung halaman memiliki arti tersendiri.

“Merayakan Maulid Nabi di kampung halaman adalah momen istimewa untuk mempererat silaturahmi dan melestarikan tradisi kebersamaan warga desa,” kata Ida.

Kalimat itu sederhana. Namun, bagi masyarakat yang hidup dalam ikatan kekeluargaan yang kuat, silaturahmi bukan sekadar pertemuan.

Ia adalah cara menjaga hubungan.

Cara mengingat dari mana seseorang berasal.

Dan cara memastikan bahwa kesibukan serta perjalanan hidup tidak membuat seseorang kehilangan hubungan dengan kampung halamannya.

Karena itu, perayaan Maulid kali ini tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat.

Dari Pujian kepada Rasulullah hingga Kepedulian

Dakwah Islamiyah yang disampaikan mubalig Tgk Asnawi Arakundo menjadi bagian penting dari rangkaian acara.

Pesan keagamaan yang disampaikan mengajak jamaah meneladani akhlak Rasulullah SAW, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kepedulian terhadap sesama.

Pesan itu kemudian menemukan bentuknya dalam kegiatan santunan anak yatim.

Di antara keramaian acara, anak-anak yatim hadir menerima santunan. Tidak ada yang terlalu rumit dalam momen tersebut. Hanya pertemuan antara mereka yang ingin berbagi dan mereka yang menerima perhatian.

Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah maknanya terasa.

Santunan bukan semata tentang apa yang diberikan. Ada perhatian yang menyertainya. Ada kepedulian yang ingin disampaikan. Ada pesan bahwa anak-anak yatim tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.

Bagi Ida, semangat Maulid tidak seharusnya berhenti pada kemeriahan perayaan.

Nilai yang lebih penting adalah bagaimana kecintaan kepada Rasulullah SAW diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sosial.

Banyak Jalan, Satu Pertemuan

Peringatan Maulid tersebut juga mempertemukan berbagai unsur masyarakat.

Hadir para Staf Penghubung (Liaison) Anggota DPD RI H. Sudiman Haji Uma, M.Sos yang berada di Aceh, perwakilan komunitas masyarakat Aceh di Malaysia, Group Aceh Bersatu (GAB), Group Aceh Meutuah (GAM), Group Koper, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga lainnya.

Mereka datang dari latar belakang dan perjalanan yang berbeda.

Sebagian mungkin telah lama meninggalkan kampung halaman. Sebagian lainnya tetap tinggal dan menjalani kehidupan di sana.

Namun, pada hari itu, jarak seolah mengecil.

Maulid menjadi titik temu.

Bukan hanya untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga untuk mengingat kembali pentingnya persaudaraan.

Sebab sebuah kampung halaman tidak pernah benar-benar jauh bagi orang-orang yang masih menjaga hubungan dengannya.

Pulang yang Tidak Berhenti pada Rindu

Bagi Ida, kembali ke Alue Brawe membawa makna lebih dari sekadar menghadiri tradisi tahunan.

Ada kerinduan yang menemukan jawabannya dalam perjumpaan dengan masyarakat.

Ada silaturahmi yang kembali terjalin.

Dan ada kebahagiaan yang dibagikan kepada anak-anak yatim.

Di tengah kehidupan yang terus bergerak, kepulangan seperti itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu harus dirayakan dengan kemewahan.

Terkadang, ia cukup diwujudkan dengan kembali ke tempat seseorang pernah tumbuh, duduk bersama masyarakat, mendengar doa-doa yang dilantunkan, lalu menyisihkan sebagian kebahagiaan untuk mereka yang membutuhkan.

Maulid di Alue Brawe pun meninggalkan cerita yang sederhana.

Tentang seorang anak kampung yang kembali.

Tentang masyarakat yang berkumpul.

Tentang doa dan pujian kepada Rasulullah SAW.

Dan tentang anak-anak yatim yang pulang membawa senyum.

Sebab pada akhirnya, kepulangan yang paling berarti bukanlah ketika seseorang hanya menemukan kembali kampung halamannya.

Melainkan ketika kehadirannya membuat kampung halaman itu kembali terasa sebagai rumah tempat untuk berbagi, mengingat, dan menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.***

Penulis : Abdul Rafar