Sembilan Bulan Pasca Banjir, Warga Sama Kurok Tetap Khidmat Rayakan Maulid Nabi, Kenduri di Tengah Keterbatasan
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Sembilan bulan telah berlalu sejak banjir besar menerjang, namun keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangat warga Desa Sama Kurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, untuk merayakan kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan, warga tetap membawa hidangan kenduri ke Meunasah pada Selasa (25/8/2026). Di tengah kehidupan yang belum sepenuhnya pulih pascabanjir, tradisi Maulid tetap dijaga sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mempererat persaudaraan sesama warga.
Pantauan media di Desa Sama Kurok, antusiasme warga terlihat sejak pelaksanaan kenduri. Anak-anak kelompok zikir melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Suara shalawat yang menggema di Meunasah membuat warga larut dalam suasana religius dan penuh haru.
Di balik hidangan kenduri yang tersaji, tersimpan kisah tentang kesederhanaan dan perjuangan. Bagi sebagian warga, merayakan Maulid bukan sekadar mempertahankan sebuah tradisi, tetapi juga cara untuk tetap bersyukur kepada Allah SWT meskipun kehidupan masih dibayangi keterbatasan setelah bencana.
Ketua Panitia Maulid Desa Sama Kurok, Tgk. Sulaiman Nurdin, menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah ikut menyukseskan pelaksanaan kenduri Maulid.
“Kami sangat berterima kasih kepada seluruh warga yang telah melaksanakan kenduri, juga kepada para anak muda, Tuha Peut dan seluruh warga lainnya yang telah bahu-membahu bekerja dalam pelaksanaan kenduri Maulid. Alhamdulillah, kegiatan dapat terlaksana dengan penuh keberkahan, aman dan khidmat,” tutur Tgk. Sulaiman Nurdin.
Ia menyampaikan hal tersebut didampingi Geuchik Gampong Sama Kurok, Zulfikar, yang akrab disapa Jol Kopral.
Perayaan Maulid tahun ini terasa memiliki makna yang lebih dalam. Setelah banjir berlalu selama sembilan bulan, sebagian masyarakat masih harus menata kembali kehidupan dan perekonomian mereka.
Namun dari kesederhanaan itu terlihat sebuah keteguhan: bencana boleh merendam rumah dan harta benda, tetapi jangan sampai merendam iman, persaudaraan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Kenduri yang dibawa warga ke Meunasah menjadi simbol bahwa di tengah kesulitan, masih ada tangan-tangan yang mau berbagi, masih ada pemuda yang mau bekerja, dan masih ada masyarakat yang memilih berkumpul dalam shalawat daripada larut dalam kesedihan.
Semoga keberkahan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi penguat bagi seluruh warga Desa Sama Kurok. Sebab ketika rezeki sedang terbatas, keikhlasan untuk berbagi justru menjadi kekayaan yang tidak ternilai di hadapan Allah SWT.***



