BERITA TERKINI

Segelas Kopi Pahit: Setelah Doa, Jangan Biarkan Aceh Kembali Menangis


Ditulis Oleh | ABDUL RAFAR

PASESATU.COM - Kita akan mengangkat tangan, menundukkan kepala, menyebut nama Allah, dan memohon agar tanah yang kita cintai ini diberi kedamaian, keselamatan, rezeki, serta masa depan yang lebih baik.

Tidak ada yang salah dengan doa.

Justru, doa menjadi kekuatan ketika manusia berada dalam keterbatasan dan menghadapi keadaan yang tidak mudah.

Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin terasa pahit:

Setelah doa selesai, apa yang akan kita lakukan?

Apakah kita pulang, lalu kembali menjalani kehidupan seperti biasa?

Apakah setelah itu Aceh kembali dibiarkan bergulat dengan persoalan yang sama?

Pertanyaan tersebut penting karena doa semestinya tidak berhenti sebagai permohonan. Ia juga dapat menjadi pengingat untuk memperbaiki keadaan melalui tindakan nyata.

Anak-anak masih harus bersekolah dengan berbagai keterbatasan. Orang tua masih memikirkan kebutuhan keluarga. Sebagian anak muda mencari masa depan di luar daerah. Perekonomian membutuhkan penguatan, sementara pembangunan harus terus diarahkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Lalu kita kembali berdoa.

Tahun berganti. Pemimpin berganti. Program berganti. Anggaran berganti.

Namun, sebagian persoalan Aceh masih terus berulang dan membutuhkan penyelesaian yang lebih serius.

Sampai kapan?

Pertanyaan itu mungkin lebih menyakitkan daripada sekadar berdoa.

Aceh Tidak Kekurangan Orang Pintar

Aceh memiliki banyak sumber daya manusia yang berkualitas.

Ada ulama, akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, aktivis, serta generasi muda dengan gagasan dan kemampuan yang tidak sedikit.

Namun, mengubah pengetahuan dan gagasan menjadi kerja nyata untuk menyelesaikan persoalan masih menjadi tantangan.

Mungkin karena kita terlalu sering terjebak dalam perdebatan, tetapi belum cukup konsisten mengerjakan apa yang sudah disepakati.

Kita pandai berbicara tentang Aceh.

Tetapi, apakah kita juga cukup berani membicarakan persoalan Aceh secara jujur?

Kita bangga dengan sejarah perjuangan.

Namun, apakah kita juga berani bertanya mengapa setelah perjalanan sejarah yang panjang, masih ada masyarakat yang harus berjuang keras untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, dan kehidupan yang layak?

Kita bangga dengan kekayaan alam.

Tetapi, apakah manfaatnya sudah dirasakan secara adil oleh masyarakat?

Kita berbicara tentang pembangunan.

Namun, pembangunan seperti apa yang mampu membuat masyarakat semakin mandiri, berpendidikan, sehat, produktif, dan sejahtera?

Ketika anggaran publik dibelanjakan, sudahkah kita bertanya dengan sungguh-sungguh:

Untuk siapa anggaran itu digunakan dan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat?

Aceh Membutuhkan Kejujuran

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang tidak selalu nyaman.

Namun, mungkin Aceh tidak membutuhkan sekadar kenyamanan.

Aceh membutuhkan kejujuran.

Kejujuran untuk mengakui bahwa masih ada kebijakan yang belum mencapai tujuan.

Keberanian untuk membuka dan membaca data secara transparan.

Keberanian untuk mengevaluasi kebijakan.

Keberanian untuk mengatakan bahwa sebuah program perlu diperbaiki ketika hasilnya belum sesuai harapan.

Dan yang paling penting, keberanian untuk berhenti saling menyalahkan dan mulai memperkuat kerja bersama.

Besok, mari kita berdoa.

Namun, setelah tangan kita kembali turun, jangan biarkan semangat kita ikut turun.

Jangan biarkan zikir hanya menjadi suara yang berlalu bersama angin.

Bawa doa itu pulang sebagai tanggung jawab.

Jika kita seorang guru, ajarkan anak-anak Aceh dengan sungguh-sungguh.

Jika kita seorang pejabat, kelola amanah dengan penuh tanggung jawab dan sesuai aturan.

Jika kita seorang politisi, jangan memandang rakyat hanya sebagai angka dalam kontestasi politik.

Jika kita seorang pengusaha, mari ikut membuka kesempatan kerja dan memperkuat perekonomian masyarakat.

Jika kita seorang akademisi, gunakan ilmu untuk membantu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.

Jika kita seorang pemuda, jangan hanya mengeluhkan masa depan. Mulailah mengambil bagian dalam membangunnya.

Dan jika kita hanya rakyat biasa, jangan merasa tidak memiliki kekuatan.

Sebab, perubahan besar sering kali berawal dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Doa membuat kita berharap.

Ilmu membuat kita memahami.

Keberanian membuat kita bergerak.

Kerja nyata membuat perubahan dapat dirasakan.

Jangan Sampai Anak Cucu Hanya Mendengar Cerita

Jangan sampai suatu hari nanti anak cucu kita bertanya:

“Dulu, ketika Aceh membutuhkan perubahan, apa yang kalian lakukan?”

Lalu kita hanya mampu menjawab:

“Kami pernah berdoa.”

Tidak.

Semoga jawaban kita kelak jauh lebih panjang:

Kami pernah berdoa.
Kami pernah menangis.
Kami pernah bertanya.
Kami pernah berani melihat persoalan dengan jujur.
Dan setelah itu, kami bekerja untuk memperbaikinya.

Karena Aceh tidak hanya membutuhkan rakyat yang pandai berharap.

Aceh membutuhkan masyarakat yang berani berpikir, berani menyampaikan kebenaran, menghormati aturan, dan bersedia bekerja untuk kepentingan bersama.

Besok kita berdoa.

Lusa kita bekerja.

Dan setiap hari setelahnya, kita terus berusaha.

Sebab, Aceh terlalu berharga untuk hanya dikenang.

Aceh harus terus diperjuangkan.

Rakyat Aceh bangkit.