BERITA TERKINI

KPA Pase dan Warga Gelar Doa Bersama di Rumah Adat Cut Meutia, Peringati Hari Damai Aceh



ACEH UTARA | PASESATU.COM — Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pase bersama masyarakat menggelar doa dan zikir bersama di Rumah Adat Pahlawan Nasional Cut Meutia, Gampong Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Damai Aceh ke-21 sekaligus menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia. Selain zikir dan doa bersama, acara turut dirangkai dengan salawat serta pemberian santunan kepada 39 anak yatim dan piatu.

Doa bersama dipimpin oleh Abu Raja Masjid. Kegiatan berlangsung di kawasan cagar budaya yang menjadi bagian dari situs sejarah perjuangan Cut Meutia.

Selain kegiatan keagamaan, peserta juga mendapat pemaparan mengenai sejarah perjuangan Aceh. Kurator Museum Samudera Pasai, Sukarna Putra, menyampaikan materi tentang sosok Cut Meutia dan nilai-nilai perjuangannya yang dinilai penting untuk diketahui generasi muda.

Menurut Sukarna, keberanian dan kedisiplinan Cut Meutia dalam perjuangan melawan kolonial Belanda merupakan bagian penting dari sejarah Aceh yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat.


Ia menilai sejarah perjuangan tokoh-tokoh Aceh, termasuk Cut Meutia dan Sultan Iskandar Muda, tidak cukup hanya dikenang dalam kegiatan seremonial. Pengetahuan tersebut, kata dia, perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Sejarah para pahlawan Aceh perlu terus disampaikan kepada generasi muda agar tidak terputus. Nilai perjuangan dan keteladanan mereka harus tetap dikenal oleh anak cucu kita,” kata Sukarna.

Sukarna juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap sejarah Aceh secara lebih luas, termasuk kisah para sultan dan tokoh perjuangan lainnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, M. Ali, meminta pemerintah dan pihak terkait memberikan perhatian lebih serius terhadap kondisi Rumah Adat Cut Meutia.

Menurutnya, bangunan bersejarah tersebut membutuhkan pemeliharaan agar keberadaannya tetap terjaga dan dapat menjadi sarana pembelajaran sejarah bagi generasi mendatang.

Ia menyebut perhatian terhadap kondisi rumah adat tersebut kembali mengemuka setelah kegiatan Haul Cut Meutia yang melibatkan keluarga dan keturunan pahlawan pada 2018. Namun, hingga kini, menurut M. Ali, belum terlihat perbaikan signifikan pada bangunan tersebut.

“Kami ingin masyarakat dan pemerintah melihat langsung kondisi Rumah Adat Cut Meutia. Harapannya, ada langkah bersama untuk menjaga dan mengaktifkan kembali fungsi cagar budaya ini,” ujarnya.

M. Ali berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat mengambil langkah konkret untuk melakukan perawatan dan perbaikan terhadap situs tersebut.

Ia menilai Rumah Adat Cut Meutia bukan hanya bangunan lama, tetapi juga bagian dari jejak sejarah perjuangan masyarakat Aceh yang perlu dilestarikan.

Panitia kegiatan, Razali, mengapresiasi kehadiran masyarakat dalam kegiatan tersebut. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada warga, termasuk kaum ibu, yang turut hadir dalam rangkaian doa dan zikir.


Razali mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus mengenang jasa Cut Meutia dan para tokoh yang telah memberikan kontribusi dalam perjalanan sejarah Aceh.

“Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan mengenang perjuangan Cut Meutia sebagai pahlawan nasional. Kami berharap rangkaian peringatan Hari Damai Aceh dan HUT RI dapat berlangsung aman serta diisi dengan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Razali.

Peringatan Hari Damai Aceh di Rumah Adat Cut Meutia tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga perdamaian, merawat sejarah, serta melestarikan situs-situs bersejarah di Aceh Utara agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.***