Belanda Pulang ke Amsterdam, Jepang Pulang ke Tokyo—Lalu, Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?
Font Terkecil
Font Terbesar
PASESATU.COM - Belanda sudah kembali ke Amsterdam. Jepang sudah kembali ke Tokyo. Penjajahan bersenjata memang telah lama berakhir. Bendera asing tidak lagi berkibar di atas tanah kita. Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan untuk dijawab:
Apakah kita benar-benar sudah merdeka dari bangsa sendiri?
Kita merayakan 17 Agustus dengan upacara, lomba, karnaval, panggung hiburan dan kibaran Merah Putih. Kita berteriak lantang, “Merdeka!” Tetapi di balik teriakan itu, masih ada rakyat yang bertanya kapan rumah mereka dibangun kembali, kapan bantuan benar-benar sampai, kapan sawah kembali dialiri air, dan kapan mereka bisa hidup tanpa harus menunggu belas kasihan.
Dulu rakyat melawan penjajah yang datang membawa senjata. Hari ini rakyat bisa saja terluka oleh sesuatu yang jauh lebih halus: ketidakpedulian, keserakahan, korupsi, ketidakadilan dan kekuasaan yang lupa kepada siapa ia seharusnya mengabdi.
Penjajah dahulu mengambil hasil bumi. Bangsa sendiri kadang mengambil kesempatan.
Penjajah dahulu membangun kekuasaan dengan kekerasan. Bangsa sendiri bisa membangun kekuasaan dengan janji-janji yang hilang setelah suara rakyat diberikan.
Yang paling menyakitkan bukan kemiskinan itu sendiri. Yang paling menyakitkan adalah ketika kemiskinan terlihat jelas di depan mata, tetapi dianggap sebagai pemandangan biasa.
Untuk apa kita mengatakan Indonesia telah merdeka jika masih ada rakyat yang merasa menjadi tamu di tanah kelahirannya sendiri?
Untuk apa kita mengibarkan Merah Putih setinggi langit jika sebagian rakyat masih menundukkan kepala karena tidak tahu bagaimana menyambung hidup esok hari?
Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan adalah ketika rakyat tidak merasa dijajah oleh keadaan, tidak diperas oleh kepentingan, tidak dipermainkan oleh janji, dan tidak ditinggalkan ketika sedang paling membutuhkan negara.
Karena itu, pada HUT RI ke-81 ini, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya, “Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?”
Lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita menjadi bangsa yang benar-benar merdeka?
Belanda sudah pulang ke Amsterdam. Jepang sudah pulang ke Tokyo.
Jangan sampai penjajah asing sudah pergi, tetapi mental penjajahan justru tumbuh subur di antara kita sendiri.
Dan jika itu terjadi, maka musuh terbesar kemerdekaan bukan lagi mereka yang datang dari seberang laut.
Musuh terbesar kemerdekaan adalah ketika anak bangsa sendiri kehilangan rasa malu melihat rakyatnya menderita.
Itulah kemerdekaan yang paling menyayat untuk dipertanyakan.
Kita memang sudah merdeka dari bangsa asing. Tetapi apakah kita sudah merdeka dari bangsa sendiri?***



